Langsung ke konten utama

Perpanjang SIM : Ga Sengaja Aku Menyuap.

Jadi bulan ini emang harus perpanjang SIM. Udah mencari info cara perpanjangan di kota kesayangan satu ini. Ternyata ada petugas SIM keliling di gor yang ada setiap Hari Rabu, Kamis,  dan Sabtu dari jam 7 pm - 9 pm.  Menurut info, boleh mulai nyari h-14 hari, karena minggu ini padet dan takut ga keburu akhirnya ngurus deh kemaren. Udah baca juga syarat2 yang diperlukan kaya fotocopy SIM 2x, KTP 2x, dan surat kesehatan. Sebelum berangkat udah bawa fotocopy-an plus pulpen buat ngisi biodata. 

Sampe sana nanya ke petugas cara perpanjangan SIM, trus diarahin ke depan mobil keliling. Disana nanya ke petugas yang nganggur, ditanggapi 'wah kok rame, ke bapak yang itu yaa'
Aku samperinlah si bapak yg ditunjuk tadi, aku bilang mau perpanjang SIM. Dimintain KTP sama SIM asli trus dia bilang 150k ya dibayar depan nanti. 

Ga lama kemudian nama aku dipanggil, dan bayar 150k. Sambil berdiri mengamati orang2 pada bawa map trus ngumpulin ke loket. Ngobrol2 sama si bapak sebelah yang ternyata guru mba nisna dan mantan tetangga juga. Membahas kenapa kita ga ngumpulin map. Disitu aku masih positif thinking. Ternyata orang yang bawa anak kecil pada dipanggil duluann,  simpati. 

Aku udah siap2 pulang malem karena antriannya luarbiasa banget. Eh, namaku dipanggil dong ga lama kemudian, suruh poto. Engga ditanyain fotocopy an tadi, surat sehat juga engga. Masih ga sadar aku bilang ke si bapak tadi, 'wah kita kok didulukan nggih pak'. Kata si bapak mah kudu disyukurin aja. Namanya rejeki itu, makanya banyak sholawat sama istighfar dimana-mana. Oke..

Pas lagi nungguin dipanggil buat pengambilan SIM, aku melihat sekitar lagi ternyata orang2 pada bayar 75 aja. Oh, dan aku baru sadar kalo aku lewat jalur khusus. Lalu ayahku datang, dan ngakak dong. Lalu ayah sama si bapak mendiskusikan tentang kesempatan yang dibuat2 ini. Yah, buat beli kopi kali ya. Astaga, merasa berdosa diri ini. Dan untungnya bawa duit lebih. Kan lucu ya kalo misal udah mau lewat jalur khusu tapi engga bawa duit. 

Mana si pak petugas pas manggil nama aku november bukan novien karena dia ga kelihatan, dan susah si. Habis ngambil tiba2 dicolek seorang ibuk2 dan dia bertanya 'mba, ini udah gini aja ya?'. Bingung dong aku, ya kalo engga mau ngapain lagi bu, aku nanya balik. Si Ibuk bilang, 'ga bayar lagi gitu mba, udah gini aja kalo lewat jalur belakang? Saya engga tau soalnya'. Wah sebenarnya sama bu, cuman akhirnya kujawab iya aja. Dan dia masih memastikan ulang, 'yaudah saya pulang ya mba berarti'.  Dikira aku ini udah ahli apa ya dalam beginian. Tapi biar ga lama ku'iya'in ajaa. 

Habis itu si Ayah ngajakin makan nasi goreng favorit. Kocaknya antri makannya lebih lama daripada bikin SIM. Trus aku bilang, lucu juga ya kalo ini nasgor bikin jalur khusus juga. 

Oiya ternyata tanggal mati SIM yang baru itu sesuai tanggal perpanjangannya bukan sesuai ulangtahun lagi. 

Sekian. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reply 1988 : Told Me About Live

Sebagai orang heartless, tidak banyak film atau series yang bisa menyentuh, apalagi berulang kali bikin nangis-nangis. Namun ada beberapa yang menguras air mata, tentu saja. Salah satunya adalah Reply 1988. Series lama (2015) yang entah kenapa direkomendasikan disemua situs setiap kali mencari rekomendasi drama yang bagus. Dari yang awalnya nggak minat, karena setting jaman dulu, sampai aku jatuh cinta sama series satu ini. Apa yang membuat ini begitu menarik adalah angle yang diambil sang sutradara, ada banyak topik yang relevan dengan kehidupan nyata dan penggambaran karakter yang punya ceritanya sendiri-sendiri. Dari topik-topik ini ada banyak banget nilai moral yang bisa kita ambil. Family, tempat pulang bahkan saat terkadang kamu kesal dengan mereka. Dari awal ceritanya menggambarkan bagaimana posisi tokoh utama sebagai anak tengah diantara anak bungsu dan sulung sebuah keluarga yang hidup di bawah tanah. Bagusnya serial ini, engak hanya mengangkat permasalahan keluarga si t...

Lembayung Bali-Saraz Dewi

Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu Di kala jiwaku tak terbatas bebas berandai memulang waktu Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku Bilakah diriku berucap maaf masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu oh cinta Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri cawan hidupku Bilakah kita menangis bersama tegar melawan tempaan semangatmu itu oh jingga Hingga masih bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbangun dari khayal keajaiban ini oh mimpi Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung surya-Mu Lembayung bali

My Confession...

Aku sudah sadar tentang ini dari lama, tapi tiba-tiba pas ngomongin ini dari sisi lainnya which mean ngga tentang aku jadi sedih banget. 06.07.20 'Aku bingung mau terima interviewnya atau ngga soalnya aku merasa ngga layak apalagi membahas gimana organisasi tourism ini bertahan di pandemi dan tetap menolong masyarakat' Pesan yang aku ucapkan buat minta saran, tapi justru menggelitik hatiku sendiri. Dan kebetulan habis banget ngelihat foto-foto orang Pacitan. Aku ngga pernah menjaminkan apapun pada mereka, tak terucap satu pun janji. Tapi dari sorot matanya yang mengharap, aku tau bahwa meraka ingin Aku jadi pahalwannya. Sangat menyedihkan ternyata aku tidak lebih dari seorang bocah. Yang untuk bertanggung-jawab atas hidupnya sendiri aja belum mampu. Ada rasa bersalah yang mebebani, harusnya mungkin dari awal aku tak bermain persoalan ini. Tapi, sebenarnya Aku juga tidak main-main. Hanya saja, (Aku tidak tau bagaimana melukiskan semua kondisi ini tanpa menyalahkan sesuatu...