Langsung ke konten utama

Reply 1988 : Told Me About Live

Sebagai orang heartless, tidak banyak film atau series yang bisa menyentuh, apalagi berulang kali bikin nangis-nangis. Namun ada beberapa yang menguras air mata, tentu saja. Salah satunya adalah Reply 1988. Series lama (2015) yang entah kenapa direkomendasikan disemua situs setiap kali mencari rekomendasi drama yang bagus. Dari yang awalnya nggak minat, karena setting jaman dulu, sampai aku jatuh cinta sama series satu ini.

Apa yang membuat ini begitu menarik adalah angle yang diambil sang sutradara, ada banyak topik yang relevan dengan kehidupan nyata dan penggambaran karakter yang punya ceritanya sendiri-sendiri. Dari topik-topik ini ada banyak banget nilai moral yang bisa kita ambil.

Family, tempat pulang bahkan saat terkadang kamu kesal dengan mereka.

Dari awal ceritanya menggambarkan bagaimana posisi tokoh utama sebagai anak tengah diantara anak bungsu dan sulung sebuah keluarga yang hidup di bawah tanah. Bagusnya serial ini, engak hanya mengangkat permasalahan keluarga si tokoh utama. Mereka detail menjelaskan permasalahan keluarga lainnya. Bahkan hubungan antar tokoh dalam keluarga. Bagaimana hubungan orangtua dan anak yang kadang canggung dan yang lain begitu akrab. Yang akan membuat kita tersentuh adalah penyampaian cerita yang menggambarkan mereka punya caranya sendiri dalam mengungkapkan rasa sayang diantara kecangungan itu. Ada juga intrik-intrik seperti kecemburuan kepribadian tokoh lainnya yang terlihat lebih ceria (Sung-BoRa cemburu dengan keramahan dan keceriaan Sung-DeokSun bisa membuat semua orang nyaman dan akrab dengannya) sampai kecemburuan antar hubungan antar karakter yang lebih dekat satu sama lain darpada dengan yang lainnya.

Dan part yang paling buat tersentuh adalah ketika Sung-BoRa berusaha dekat dengan ayahnya, tapi mereka sama-sama kaku. Seringkali, BoRa salah membelikan barang untuk ayahnya. Kemeja yang kekecilan, sepatu yang kebesaran, dan bagaimana sang ayah menyikapi. Sampai pas terkahir, di hari pernikahan BoRa, mereka bertukar surat. OMG!! Alurnya itu oke banget sampai mampu membuat penonton mendalami perasaan karakter.

Yang kedua adalah hubungan Jung-Hwan dengan keluarganya. Dia punya kepribadian yang dingin. Ibu Jung-Hwan sering cemburu dengan hubungan Sun-woo dengan Ibunya meskipun dia selalu bilang anak laki-laki punya kehidupannya sendiri. Bahkan dia tidak tahu kalau Jung-hwan menjadi peringkat 1 di sekolah, dan malah mengetahui dari Ibu Sun-woo. Akhirnya, tiba-tiba Dia memeluk Jung-Hwan dan mengatakan untuk bercerita jika ada apa-apa, dan disitulah Jung-Hwan minta dibelikan sepatu lagi (sepatu lamanya dipalak). Adegan yang menyentuh tapi bikin senyum-senyum adalah ketika Sang Ibu harus meninggalkan rumah untuk beberpaa hari dengan penuh kekhawatiran karena mereka bertiga (Ayah Jung-Hwan, Kakak Jung Hwan, dan Jung-Hwan) sangat bergantung kepada Ibunya dalam melakukan segala aktivitas. Mereka harus di briefing dulu tentang isi kulkas, bagaimana mengganti batu bara, dan letak barang-barang. Berkebalikan dengan Sang Ibu yang khawator, mereka bertiga justru merasa senang karena bisa bebas melakukan apapun. Sampai saat Sang Ibu pulang, mengejutkannya, mereka melakukan semuanya dengan benar. Bukannya senang, Sang Ibu merasa 'ternyata mereka bisa tanpa aku', padahal dia berharap mereka tidak akan bisa tanpa dirinya. Jung-Hwan yang menyadari keanehan bercerita ke Dong-ryong, setelah mengetahui penyebabnya, dia langsung menemukan solusi yang kreatif, dan itu membuat Ibunya senang kembali.

Masih tentang Jung-Hwan. Saat Sang Ibu mengalami menopouse, moodnya sungguh kacau. Lalu, dia menyadari foto pernikahan orangtuanya tidak asli dan kebetulan itu adalah hari itu ulangtahun Sang Ibu, tapi Dia justru tidak bersemangat. Saat mencari restoran untuk merayakan, dia ditelepon Dong-ryong (mengundang semua orang untuk makan di kedainya karena tiba-tiba pelanggan membatalkan pesta pernikahannya) dan akhirnya Jung-Hwan menemukan ide kreatif untuk kejutan sang Ibu.

Ketiga, momen ketika Ayah BoRa pensiun tapi hanya mendapat buket bunga tanpa piagam penghargaan (padalah sudah puluhan tahun bekerja), anaknya membuat Penghargaan sendiri dan mengukir surat yang mengharukan di piagam tersebut.


Relationship -Love and Friendship-. A complicated connection of human, but everyone need that.

Dikisahkan lima orang anak yang bertetangga ini sudah berteman sejak kecil, empat orang laki-laki dan satu orang perempuan. Mereka berteman sampai dewasa, pertemanan yang bisa dibilang biasa saja, seperti pada umumnya. Mereka mendukung satu dengan lainnya dengan caranya mereka sendiri. Seperti kisah persahabatan laki-laki-perempuan pada umumnya, kisah mereka dibumbui cerita cinta.


Chance, Timing, and Effort. Sometimes people misunderstand and blame universe for what is happening.

Ada suatu ketika pas si Kim Jung Hwan kebanyakan mikir mau jemput Doeksun atau nggak pas tahu pacaranya selingkuh. Akhirnya pas dia sampe lokasi sudah keduluan Choi Taek. Habis itu dia pergi dan nyalahin lampu merah, 'kalau aja tadi lampu merahnya ngga terlalu banyak pasti aku ngga akan telat dateng'. Tapi akhirya dia sadar kalau bukan salah lampu merah melainkan salahnya sendiri karena terlalu bnyak ragu.

Sebenarnya di poin cinta2an itu bingung banget kenapa Jung Hwan gamau bilang sih, emang kalau suka sama orang yang disukai temennya itu berkhianat? Menurut Aku sih asal mereka fair nggapapa dong.

Trus masak ada cerita kalau plot akhirnya tuh si Jung Hwan sebenernya meninggal. Cuman karena naskah bocor di SNS (medsos nya orang korea) jadi ngga dipake deh. Padahal bakal nendang banget kalau kaya gitu mah.




















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lembayung Bali-Saraz Dewi

Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu Di kala jiwaku tak terbatas bebas berandai memulang waktu Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku Bilakah diriku berucap maaf masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu oh cinta Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri cawan hidupku Bilakah kita menangis bersama tegar melawan tempaan semangatmu itu oh jingga Hingga masih bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbangun dari khayal keajaiban ini oh mimpi Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung surya-Mu Lembayung bali

My Confession...

Aku sudah sadar tentang ini dari lama, tapi tiba-tiba pas ngomongin ini dari sisi lainnya which mean ngga tentang aku jadi sedih banget. 06.07.20 'Aku bingung mau terima interviewnya atau ngga soalnya aku merasa ngga layak apalagi membahas gimana organisasi tourism ini bertahan di pandemi dan tetap menolong masyarakat' Pesan yang aku ucapkan buat minta saran, tapi justru menggelitik hatiku sendiri. Dan kebetulan habis banget ngelihat foto-foto orang Pacitan. Aku ngga pernah menjaminkan apapun pada mereka, tak terucap satu pun janji. Tapi dari sorot matanya yang mengharap, aku tau bahwa meraka ingin Aku jadi pahalwannya. Sangat menyedihkan ternyata aku tidak lebih dari seorang bocah. Yang untuk bertanggung-jawab atas hidupnya sendiri aja belum mampu. Ada rasa bersalah yang mebebani, harusnya mungkin dari awal aku tak bermain persoalan ini. Tapi, sebenarnya Aku juga tidak main-main. Hanya saja, (Aku tidak tau bagaimana melukiskan semua kondisi ini tanpa menyalahkan sesuatu...