Ah, ternyata menyadari bahwa kita hidup itu adalah sesuatu yang berat.
Kebingungan terhadap penantian ajal yang pasti. Tapi sebelum saat itu apa hanya akan menunggu dan menjalani sesuai keinginan orang-orang? Hidup dari prinsip2 seharusnya? Atau mau berbuat lebih? Rasanya sayang jika hidup dan kemudian terlupakan begitu saja saat ajal datang.
Dulu saat sekolah tidak terlalu runit karena pilihannya pun tidak terlalu banyak. Kalau bicara sekarang, sangat tidak terbatas. Tapi ketakutannya juga semakin besar. Resiko apa yang ada di depan, nanti orang2 akan gimana. Belum lagi dengan idealisme diri yang semakin tak mau kalah tapi tak berarah.
Belum lagi persoalan romansa yang akan memburu. Antara tak ingin dikecewakan tapi tak ingin pula hidup sepi. Pilihan yang dibayangkan, mana yang lebih mampu dan mana yang tidak? Karena hidup memang penuh masalah dan mencari kebahagian itu semu. Selesaikan masalah, bahagia akan datang sebagai reward.
Banyak yang bilang, semua sudah diatur. Tapi apa hanya menunggu saja? Cukupkah dengan begitu? Rasanya semakin gundah karena waktu masih berjalan, dan tak beranjak. Tapi, dibilang hanya menunggu dan diam rasanya juga tengah berlari. Hanya saja belum tau kapan harus berhenti dan menyadari bahwa penantian telah usai. Jawabannya ada disini. Bernafas lega dan memulai penantian lainnya.
-ini dulu sebuah draft yang diniatkan untuk lomba bertema menunggu, tapi akhirnya engga jadi soalnya bikin cerpen susah-
Komentar
Posting Komentar