Langsung ke konten utama

Cukupkah?

Ah, ternyata menyadari bahwa kita hidup itu adalah sesuatu yang berat. 

Kebingungan terhadap penantian ajal yang pasti. Tapi sebelum saat itu apa hanya akan menunggu dan menjalani sesuai keinginan orang-orang? Hidup dari prinsip2 seharusnya? Atau mau berbuat lebih? Rasanya sayang jika hidup dan kemudian terlupakan begitu saja saat ajal datang. 

Dulu saat sekolah tidak terlalu runit karena pilihannya pun tidak terlalu banyak. Kalau bicara sekarang, sangat tidak terbatas. Tapi ketakutannya juga semakin besar. Resiko apa yang ada di depan, nanti orang2 akan gimana. Belum lagi dengan idealisme diri yang semakin tak mau kalah tapi tak berarah. 

Belum lagi persoalan romansa yang akan memburu. Antara tak ingin dikecewakan tapi tak ingin pula hidup sepi. Pilihan yang dibayangkan, mana yang lebih mampu dan mana yang tidak? Karena hidup memang penuh masalah dan mencari kebahagian itu semu. Selesaikan masalah, bahagia akan datang sebagai reward. 

Banyak yang bilang, semua sudah diatur. Tapi apa hanya menunggu saja? Cukupkah dengan begitu? Rasanya semakin gundah karena waktu masih berjalan, dan tak beranjak. Tapi, dibilang hanya menunggu dan diam rasanya juga tengah berlari. Hanya saja belum tau kapan harus berhenti dan menyadari bahwa penantian telah usai. Jawabannya ada disini. Bernafas lega dan memulai penantian lainnya. 

-ini dulu sebuah draft yang diniatkan untuk lomba bertema menunggu, tapi akhirnya engga jadi soalnya bikin cerpen susah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reply 1988 : Told Me About Live

Sebagai orang heartless, tidak banyak film atau series yang bisa menyentuh, apalagi berulang kali bikin nangis-nangis. Namun ada beberapa yang menguras air mata, tentu saja. Salah satunya adalah Reply 1988. Series lama (2015) yang entah kenapa direkomendasikan disemua situs setiap kali mencari rekomendasi drama yang bagus. Dari yang awalnya nggak minat, karena setting jaman dulu, sampai aku jatuh cinta sama series satu ini. Apa yang membuat ini begitu menarik adalah angle yang diambil sang sutradara, ada banyak topik yang relevan dengan kehidupan nyata dan penggambaran karakter yang punya ceritanya sendiri-sendiri. Dari topik-topik ini ada banyak banget nilai moral yang bisa kita ambil. Family, tempat pulang bahkan saat terkadang kamu kesal dengan mereka. Dari awal ceritanya menggambarkan bagaimana posisi tokoh utama sebagai anak tengah diantara anak bungsu dan sulung sebuah keluarga yang hidup di bawah tanah. Bagusnya serial ini, engak hanya mengangkat permasalahan keluarga si t...

Lembayung Bali-Saraz Dewi

Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu Di kala jiwaku tak terbatas bebas berandai memulang waktu Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku Bilakah diriku berucap maaf masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu oh cinta Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri cawan hidupku Bilakah kita menangis bersama tegar melawan tempaan semangatmu itu oh jingga Hingga masih bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbangun dari khayal keajaiban ini oh mimpi Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung surya-Mu Lembayung bali

My Confession...

Aku sudah sadar tentang ini dari lama, tapi tiba-tiba pas ngomongin ini dari sisi lainnya which mean ngga tentang aku jadi sedih banget. 06.07.20 'Aku bingung mau terima interviewnya atau ngga soalnya aku merasa ngga layak apalagi membahas gimana organisasi tourism ini bertahan di pandemi dan tetap menolong masyarakat' Pesan yang aku ucapkan buat minta saran, tapi justru menggelitik hatiku sendiri. Dan kebetulan habis banget ngelihat foto-foto orang Pacitan. Aku ngga pernah menjaminkan apapun pada mereka, tak terucap satu pun janji. Tapi dari sorot matanya yang mengharap, aku tau bahwa meraka ingin Aku jadi pahalwannya. Sangat menyedihkan ternyata aku tidak lebih dari seorang bocah. Yang untuk bertanggung-jawab atas hidupnya sendiri aja belum mampu. Ada rasa bersalah yang mebebani, harusnya mungkin dari awal aku tak bermain persoalan ini. Tapi, sebenarnya Aku juga tidak main-main. Hanya saja, (Aku tidak tau bagaimana melukiskan semua kondisi ini tanpa menyalahkan sesuatu...