Langsung ke konten utama

Waktu dan Keputusan

Hidup seringkali memaksa kita membuat banyak keputusan dari pilihan yang ada. Semakin sedikit pilihan yang disediakan semakin mudah. Manusia selalu punya banyak cara dalam mempertimbangkan pilihannya. Tapi secara garis besar pilihan ditentukan dari nafsu semata, kebutuhan, atau dugaan masa depan.
Nafsu sering mendorong manusia bersifat impulsif. Contoh sederhana pengen membeli sepatu saat musim diskon padahal banyak sepatu berjajar di rak rumah, hanya karena edisi terbatas dengan harga gila murahnya. Pengen hujan-hujanan atau berenang saat melihat air. Tanpa pikir panjang.
Kebutuhan. Saat haus kita pasti minum, saat kedinginan kita akan memakai jaket. Sesuatu yang dilakukan atau dipilih berdasarkan kebutuhan diri. Atau kalo dikaitkan dengan barang, aku perlu membeli baju karena bajuku sudah kekecilan atau bolong.
Masa depan. Manusia yang mengambil keputusan dengan menduga manfaat di masadepan. Misalnya dia akan membeli sebuah saham atau investasi pada sebuah usaha yang mengalami kemajuan secara pesat. Atau memilih melakukan dan tidak untuk pergi ke suatu acara berdasarkan tingkat manfaat bagi dirinya kedepan dari segi materi maupun non.
Semua orang pernah merasakan semua posisi impulsif, butuh, maupun meramal.
Salah satu hal yang membebani dalam membuat pilihan adalah faktor usia. Karena semakin tua -bukan berarti pasti dewasa- manusia menjadi semakin khawatir masa depan. Atau setidaknya orang yang aku kenal begitu. Semakin takut menghabiskan waktu ataupun uang untuk hal yang sia-sia belaka. Terlalu mengkhawatirkan masa depan, apalagi menyangkut uang. Prinsip saving money.

Trus tiba2 aja tadi aku kepikiran. Kayanya dalam memutuskan sesutu akan lebih baik kalo membagi sangkut pautnya dulu. Misal itu berkaitan dengan uang, kaya mau nikah mewah yang butuh banyak duit, tapi kebutuhan pasca nikah bakal lebih banyak. Ada yang nyesel udah mewah, dan sadar ternyata beli rumah dan mobil butuh uang juga. Tapi aku mikir, kalo seandainya waktu itu dia ga pesta, bisa jadi juga akan menyesalinya. Otak manusia selalu mencari masalah untuk dipikirkan, terkadang cukup membebani, salah satunya penyesalan. Tapi nyatanya orang ini juga mampu membeli rumah dan mobil itu dalam kurun waktu yg cepat. Lalu, menyesali lagi kenapa dulu beli rumah, merasa rugi karena sistem kpr.
Atau masalah lainya, jalan2, diajak pergi tapi mikirin duitnya, beneran enak buat jalan atau ditabung atau buat beli yg lain. Giliran gaikut, ternyata tempatnya bagus banget, mau kesana lagi ga ada temen dan waktu. Ah hidup.

Trus aku dapat kesimpulan kek gini, misal keputusan harus dibuat efeknya cuma masalah uang, mungkin lebih baik gapapa diambil aja. Uang bisa dicari lagi. Tapi kalo keputusan harus dibuat berhubungan dengan waktu, lebih akan memikirkan baik2 Karena waktu gabisa diputar balik.

Bye.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reply 1988 : Told Me About Live

Sebagai orang heartless, tidak banyak film atau series yang bisa menyentuh, apalagi berulang kali bikin nangis-nangis. Namun ada beberapa yang menguras air mata, tentu saja. Salah satunya adalah Reply 1988. Series lama (2015) yang entah kenapa direkomendasikan disemua situs setiap kali mencari rekomendasi drama yang bagus. Dari yang awalnya nggak minat, karena setting jaman dulu, sampai aku jatuh cinta sama series satu ini. Apa yang membuat ini begitu menarik adalah angle yang diambil sang sutradara, ada banyak topik yang relevan dengan kehidupan nyata dan penggambaran karakter yang punya ceritanya sendiri-sendiri. Dari topik-topik ini ada banyak banget nilai moral yang bisa kita ambil. Family, tempat pulang bahkan saat terkadang kamu kesal dengan mereka. Dari awal ceritanya menggambarkan bagaimana posisi tokoh utama sebagai anak tengah diantara anak bungsu dan sulung sebuah keluarga yang hidup di bawah tanah. Bagusnya serial ini, engak hanya mengangkat permasalahan keluarga si t...

Lembayung Bali-Saraz Dewi

Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu Di kala jiwaku tak terbatas bebas berandai memulang waktu Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku Bilakah diriku berucap maaf masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu oh cinta Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri cawan hidupku Bilakah kita menangis bersama tegar melawan tempaan semangatmu itu oh jingga Hingga masih bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbangun dari khayal keajaiban ini oh mimpi Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung surya-Mu Lembayung bali

My Confession...

Aku sudah sadar tentang ini dari lama, tapi tiba-tiba pas ngomongin ini dari sisi lainnya which mean ngga tentang aku jadi sedih banget. 06.07.20 'Aku bingung mau terima interviewnya atau ngga soalnya aku merasa ngga layak apalagi membahas gimana organisasi tourism ini bertahan di pandemi dan tetap menolong masyarakat' Pesan yang aku ucapkan buat minta saran, tapi justru menggelitik hatiku sendiri. Dan kebetulan habis banget ngelihat foto-foto orang Pacitan. Aku ngga pernah menjaminkan apapun pada mereka, tak terucap satu pun janji. Tapi dari sorot matanya yang mengharap, aku tau bahwa meraka ingin Aku jadi pahalwannya. Sangat menyedihkan ternyata aku tidak lebih dari seorang bocah. Yang untuk bertanggung-jawab atas hidupnya sendiri aja belum mampu. Ada rasa bersalah yang mebebani, harusnya mungkin dari awal aku tak bermain persoalan ini. Tapi, sebenarnya Aku juga tidak main-main. Hanya saja, (Aku tidak tau bagaimana melukiskan semua kondisi ini tanpa menyalahkan sesuatu...