Langsung ke konten utama

Sebuah Kesadaran

Pernah ga sih kalian sadar menjalani hidup?
Rasanya selama ini aku sekadar hidup. 

Menjalani kehidupan sesuai dengan yang diciptakan masyarakat pada umumnya. Prinsip seharusnya. Kadang aku mengagumi orang2 yang dia setelah sma ga langsung kuliah. Atau orang2 yang dari awal tau targetnya dengan jelas, seperti pak Habibie misal. Atau orang yang memutuskan berbelok sesuai jalan hidupnya sendiri.
Menyesuaikan prinsip dan memaksakan, entah itu menunjang target atau tidak, asal sesuai. Prinsip seharusnya ini pasti udah ga asing buat kalian. Sekolah dari SD sampai Kuliah, setelah itu kerja, nikah, trus mati. Kadang ga peduli apakah kuliahnya sesuai target atau bahkan asal kuliah saja. Ya, pendidikan itu penting. Tapi kadang lupa dasar atau tujuan sekolah itu apa. Ga jarang aku melihat anak2 yang menjalani sekolah karena 'kewajiban' dari orangtuanya. Malahan kadang sang anak mengancam. 'Aku gamau sekolah kalo ga dibeliin ini dan itu'. Lucu, sungguh lucu. Bukti dia tak paham kenapa harus sekolah. Dan orangtuanya juga tak mau repot2 menanamkan itu. Atau Guru di Sekolah? Kadang sama saja. Sedikit sekali yang mau memosisikan diri sebagai pembimbing. Hanya profesi yang menunjang hidup mereka. 

Anak petani yang menderita akan bilang ke anaknya 'sekolah yang tinggi ya nduk, le biar ga kaya bapak sama ibuk'. Mindset bahwa sekolah untuk bekerja di company agar bisa hidup enak yang sudah didefinisikan. Yaitu, memiliki pekerjaan tetap dengan gaji 2 digit, rumah mewah, mobil atau setidak2nya mampu makan ikan setiap hari. Sangat wajar jika seorang anak juga termotivasi untuk hidup seperti itu. Tapi suatu ketika dia akan mulai bertanya2. Meskipun sebenarnya itu juga sebuah target. Tapi pernah ga kalian membayangkan jika semua anak petani bilang seperti itu ke anak2nya. Maka tidak ada seorang pun yang mau menjadi petani. Kalo melihat2 sawah sekarang hanya orangtua2 yang bekerja. Tak melihat satupun anak muda. Kebanyakan orangtua emang cari aman, ingin kemudahan untuk anaknya. Menyekolahkan tinggi2 anaknya agar hidupnya enak. Begitulah. 

Bagaimana idealnya hidup? Entahlah. Mungkin kalian akan menemukannya jika memahami kesadaran2 ini. 
Kesadaran siapa kita? Apa yang dilakukan? Dan berapa waktu yang telah dihabiskan? Last, Do you realize what is happening now?
Hidup sesuai definisi kalian. Tanpa repot2 memperhatikan society. Menjalani hidup sesuai pilihan masing2. Tapi karena pikiran dan hidup sudah dibentuk, kadang terlampau susah untuk menyadarinya sekarang. Dan yah mungkin karena sebagian manusia lebih memilih kemudahan daripada yang lainnya.

Intinya, harus bener2 sadar. Dan ketika sudah memilih harus sepenuh hati. 

Udah ah, bye. 
Kalo ada yang mau didiskusikan atau kalian punya pendapat lain atau setuju, comment yaww!!! 😘

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reply 1988 : Told Me About Live

Sebagai orang heartless, tidak banyak film atau series yang bisa menyentuh, apalagi berulang kali bikin nangis-nangis. Namun ada beberapa yang menguras air mata, tentu saja. Salah satunya adalah Reply 1988. Series lama (2015) yang entah kenapa direkomendasikan disemua situs setiap kali mencari rekomendasi drama yang bagus. Dari yang awalnya nggak minat, karena setting jaman dulu, sampai aku jatuh cinta sama series satu ini. Apa yang membuat ini begitu menarik adalah angle yang diambil sang sutradara, ada banyak topik yang relevan dengan kehidupan nyata dan penggambaran karakter yang punya ceritanya sendiri-sendiri. Dari topik-topik ini ada banyak banget nilai moral yang bisa kita ambil. Family, tempat pulang bahkan saat terkadang kamu kesal dengan mereka. Dari awal ceritanya menggambarkan bagaimana posisi tokoh utama sebagai anak tengah diantara anak bungsu dan sulung sebuah keluarga yang hidup di bawah tanah. Bagusnya serial ini, engak hanya mengangkat permasalahan keluarga si t...

Lembayung Bali-Saraz Dewi

Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu Di kala jiwaku tak terbatas bebas berandai memulang waktu Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku Bilakah diriku berucap maaf masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu oh cinta Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri cawan hidupku Bilakah kita menangis bersama tegar melawan tempaan semangatmu itu oh jingga Hingga masih bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbangun dari khayal keajaiban ini oh mimpi Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung surya-Mu Lembayung bali

My Confession...

Aku sudah sadar tentang ini dari lama, tapi tiba-tiba pas ngomongin ini dari sisi lainnya which mean ngga tentang aku jadi sedih banget. 06.07.20 'Aku bingung mau terima interviewnya atau ngga soalnya aku merasa ngga layak apalagi membahas gimana organisasi tourism ini bertahan di pandemi dan tetap menolong masyarakat' Pesan yang aku ucapkan buat minta saran, tapi justru menggelitik hatiku sendiri. Dan kebetulan habis banget ngelihat foto-foto orang Pacitan. Aku ngga pernah menjaminkan apapun pada mereka, tak terucap satu pun janji. Tapi dari sorot matanya yang mengharap, aku tau bahwa meraka ingin Aku jadi pahalwannya. Sangat menyedihkan ternyata aku tidak lebih dari seorang bocah. Yang untuk bertanggung-jawab atas hidupnya sendiri aja belum mampu. Ada rasa bersalah yang mebebani, harusnya mungkin dari awal aku tak bermain persoalan ini. Tapi, sebenarnya Aku juga tidak main-main. Hanya saja, (Aku tidak tau bagaimana melukiskan semua kondisi ini tanpa menyalahkan sesuatu...