Langsung ke konten utama

Semarang Menyenangkan (Bersama Mas2 ala Korea)

Oktober, 2018

Kali kedua menginjakkan kaki di kota satu ini adalah urusan akademik tapi sedikit. Mari kita mundurkan waktunya. Waktu itu sebelum wisuda kita mengajukan paper dari tema Tugas akhir kita. 3 paper kalo gasalah. Aku, Husnia, dan Unyuk sebagai penulis pertama. Husnia dan Unyuk mengajukan paper dan oral, sedangkan aku hanya paper saja. Alhamdulillah kami lolos oral presentation 2 paper, jelas bukan hasil kerjaanku hehe.

Begitulah cerita mengapa hari itu aku pergi ke Semarang. Awalnya kami pengen pergi berlima, tapi petis merasa sayang untuk mengeluarkan uang kesana belum lagi harus membayar 600k untuk masuk ke seminarnya -yang akhirnya aku ga masuk-, dan Antok sudah harus balik ke Serang :((. Alhasil tinggallah kami bertiga. Waktu itu saya juga bingung mau ikut apa tidak kalo ga ada petis sama anto, kan jadi gaada temennya jalan. Akhirnya saya putuskan untuk ikut, dengan rencana melanjutkan perjalanan ke Solo.

Berangkatlah Aku, Unyuk, dan Maria -temen angakatan aku- dari Surabaya naik kereta premium. Ini jenis kereta ala eksekutif tapi jarak antar kursinya maha sempit. Ini kali kedua aku naik kereta jenis ini, enak si. Sedangkan Ncus berangkat dari Jakarta, waktu itu ada tes astra kalo gasalah dia. Kami dijemput Tsany -temen angaktan+temen travelling nih-, karena emang mau numpang di rumah dia. Kami sampai lebih dulu daripada Husnia, dan sudah waktunya makan, jadi kami memutuskan beli makanan bernama tahu gimbal.

Aku lupa banget kalo makanan Jateng itu manis gitu kan ya, jadi pas ditanyain pesen pedes atau engga aku jawab engga. Takut sakit perut, soalnya belum makan sama sekali sebelumnya. Trus pas makan pertama kali, beeh manis pulak ini bumbunya sampai eneg, tapi karena aku lapar ya abis aja tuh makanan. Kebetulan alam semesta, ada festival kota tua Semarang dan konser ten2five, jadi kami jalan2 dulu karena Ncus nyampenya jam 22.

Foto2 di bangunan2 unik disana, kami membicarakan bahwa Semarang ini kota yang suka melebih2kan. Coba cek, lawang sewu itu aku yakin pintunya ga sampe 1000, trus simpang limanya itu gasampai lima lho jalan besarnya. Dan kebetulan waktu itu ada bangunan yang lagi di pugar, antara bentuk dan sebutannya juga tidak sama. Tapi lupakan itu. Di bazar aku membeli uang 500 bergambar monyet, harganya 5000 atau 10000 gitu. Padahal kalo lihat2 di internet ada yang jual sampai ratusan jutaa gilak. Aku baru tahu si, terus jadi pengen jual ini duit hehe. Waktu itu kita mau mampir kafe gitu tapi ternyata tutut gitu, akhirnya kita nonton konser. Oh, aku sempet beli buku tentang cerita rakyat Lumajang yang sempat tenar itu lho.

Besoknya anak2 ambil nomor ke acaranya itu sama ngumpulin poster. Lihat2 bentar, ngobrol sama anak2 HMGI yang aku gakenal, ketemu dosen aku, atmosfer2 anak pinter gitu, berasa salah tempat. Waktu itu agaknya aku merasa bosan tapi anak2 ngajak ikut dinnernya. Sebenarnya si dinner buat peserta aja, yang secara teknis aku gaboleh ada disana. Awalnya aku semangat karena mau dapet makan gratiiz, tapi Allahuma nunggu lama banget, harus dengerin sambutan2 gitu. Dan molor. Anak2 yang lain pengen makan diluar aja tapi si Maria bilang sayang udah bayar, dan akhirnya kami menunggu, dan basa basi sama beberapa anak disana.

Sehabis makan mood ku membaik hehe. Pulang darisana, anak2 belajar presentasi, edit2. Oiya, ada Irsyad -temen angkatanku yang gondrong sampai lulus- juga disitu, kita baru ketemu pas ambil nomor ituu.

Di hari H mereka ikut acaranya aku jalan2 ke Lawang sewu, Grand Maerakaca sama Ucup. Akhirnya aku ada temen buat jalan2. Ucup ini Kahima jaman angkatanku, anaknya bisa tidur dimana2. Kata orang2 si dia anaknya ganteng, iniloh, mukanya ala2 oppa gangnam. Intinya aku mau sampein banyak terimakasih kepada Ucup karena sudah membuat perjalanan Semarang menjadi seru. Awalnya aku mau nyamperin dia ke Solo, tapi kata dia kasihan si aku ga ada temen jalan di Semarang jadinya disamperin kesitu.
Gara2 bahas gini, jadi pengen nyeritain temenku satu2 detail gituya. Lucu kayanya. Tentang si Ucup ini juga ada banyak si, tapi ntar ga fokus ke jalan2nya dong hmm.

Jadi pas anak2 berangkat aku masih dirumah nungguin ucup dateng. Habis itu ternyata dompetnya tsany ketinggalan, jadi aku diminta tolong buat nganterin itu. Si Ucup pake celana pendek doang padahal, trus dia udah gamau masuk ke lobby acaranya, tapi temen2 aku pada pengen ketemu dia. Trus setelah dipaksa2 kita foto bareng.

And theeennn, kita ke Lawang sewu. Dasar otaknya si Ucup pas itu lagi kepikiran bisnis masak kata dia pas masuk menganalisa prospek bisnis buat lawang sewu ini. Habis dari Lawang sewu kita ke Grand Maerakaca itu mirip2 TMII gitu tapi miniatur rumahnya cuma rumah adat Jateng. Trus kalo jalan kebelakang ada taman mangrove dan kayu2 sama penyewaan perahu obek serta perahu dayung. Setelah poto2 aku ngajakin si Ucup buat naik perahu dayung. Dia mah terlalu realistis jadi gamau gitu, males katanya, tapi alhamdulillah akhirnya mau. Dan emang ujung2nya yg dayung Ucup semua, maafinn. Soalnya kalo aku yg dayung ga berasa efeknyaa. Kalo misal jalan diseberang penyewaan perahu ada danau mayan luas gitu, dari situ kita bisa melihat matahari terbenam.

Karena udah sore, aku sama ucup memutuskan balik barangkali anak2 juga udah pada selesai, soalnya waktu itu nambah ada ferdi -Amirul Amm nya LDJ, rivalnya Ucup buat rebutan human resource, engga deng-. Jadi kalo pake mobil tsany aja gabakal cukup. Ternyata pas sampai tempatnya belum selesai, trus karena mikirnya mereka udah dapet makan kita makan dulu sambil nunggu. Tempat makannya sendok bebek, kirain khasnya bebek2an gitu yaa. Khas makanannya ternyata bakmie dong. Trus sendok bebek itu menu es mereka, alhirnya kita mutusin beli satu mangkok biat cobain. Aku lupa si isinya gimana tapi enak kayanya.

Ternyata temen2 aku belum pada makan, akhirnya kita makan lagi. Malamnya si Ucup langsung balik Solo, jadi aku ikutan soalnya emang mau lanjut jalan ke Solo.

Byee.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reply 1988 : Told Me About Live

Sebagai orang heartless, tidak banyak film atau series yang bisa menyentuh, apalagi berulang kali bikin nangis-nangis. Namun ada beberapa yang menguras air mata, tentu saja. Salah satunya adalah Reply 1988. Series lama (2015) yang entah kenapa direkomendasikan disemua situs setiap kali mencari rekomendasi drama yang bagus. Dari yang awalnya nggak minat, karena setting jaman dulu, sampai aku jatuh cinta sama series satu ini. Apa yang membuat ini begitu menarik adalah angle yang diambil sang sutradara, ada banyak topik yang relevan dengan kehidupan nyata dan penggambaran karakter yang punya ceritanya sendiri-sendiri. Dari topik-topik ini ada banyak banget nilai moral yang bisa kita ambil. Family, tempat pulang bahkan saat terkadang kamu kesal dengan mereka. Dari awal ceritanya menggambarkan bagaimana posisi tokoh utama sebagai anak tengah diantara anak bungsu dan sulung sebuah keluarga yang hidup di bawah tanah. Bagusnya serial ini, engak hanya mengangkat permasalahan keluarga si t...

Lembayung Bali-Saraz Dewi

Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu Di kala jiwaku tak terbatas bebas berandai memulang waktu Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku Bilakah diriku berucap maaf masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu oh cinta Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri cawan hidupku Bilakah kita menangis bersama tegar melawan tempaan semangatmu itu oh jingga Hingga masih bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbangun dari khayal keajaiban ini oh mimpi Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung surya-Mu Lembayung bali

My Confession...

Aku sudah sadar tentang ini dari lama, tapi tiba-tiba pas ngomongin ini dari sisi lainnya which mean ngga tentang aku jadi sedih banget. 06.07.20 'Aku bingung mau terima interviewnya atau ngga soalnya aku merasa ngga layak apalagi membahas gimana organisasi tourism ini bertahan di pandemi dan tetap menolong masyarakat' Pesan yang aku ucapkan buat minta saran, tapi justru menggelitik hatiku sendiri. Dan kebetulan habis banget ngelihat foto-foto orang Pacitan. Aku ngga pernah menjaminkan apapun pada mereka, tak terucap satu pun janji. Tapi dari sorot matanya yang mengharap, aku tau bahwa meraka ingin Aku jadi pahalwannya. Sangat menyedihkan ternyata aku tidak lebih dari seorang bocah. Yang untuk bertanggung-jawab atas hidupnya sendiri aja belum mampu. Ada rasa bersalah yang mebebani, harusnya mungkin dari awal aku tak bermain persoalan ini. Tapi, sebenarnya Aku juga tidak main-main. Hanya saja, (Aku tidak tau bagaimana melukiskan semua kondisi ini tanpa menyalahkan sesuatu...