Kedai Florist, Bandung.
Juli 2019
Sore itu cuaca kota bandung sedikit mendung. Aku waktu itu
tengah malas bertemu teman2ku tapi rasanya sayang jika tidak menemui mereka
sama sekali.
Saat melihat mereka aku hanya ingin tersenyum dan mendengar,
tidak ada cerita-cerita yang ingin kusampaikan seperti biasanya. Tapi karena
beberapa hari sebelumnya aku sempat sharing about life sama salah satu dari
mereka, aku sedikit curiga jika dia menceritakan tentang topic tersebut.
Jadilah sore itu aku ditanyai tentang kabar yang mungkin sudah mengarah. Hipotesa
mereka aku menunjukkan gejala kesepian dan kurang motivasi. Ada benarnya.
Sharing about life yang aku bicarakan pada hari sebelumnya
memang aku ingin tahu bagaimana dia menemukan turning poin dihidupnya. Apa yang
aku pahami dia mengalami sebuah kesadaran bahwa hidup bisa diprediksi baik
buruknya ketika kita dekat dengan orangtua dan Tuhan. Dia telah kembali dan
menyadari bahwa orangtuanya sudah tua dan dia ingin mewujudkan keinginan
orangtuanya. Saat aku bilang dengan membuat bahagia orangtua ya (?), dia bilang
‘bahagia’ itu terlalu klasik dan kanak2, aku harus spesifik apa. Untuk tau
keinginan orangtua butuh waktu pendekatan. Menurut dia, ketika orangtua
mendukung, kemauan ada, maka universe akan mendukung. Dia bercerita sempat
kurang bersyukur, aku melihatnya sebagai sebuah ke-iri-an hati. Tapi betul
bahwa itu tak bersyukur. Tapi nyatanya Tuhan menempatkan pada tempatnya, alasan
mengapa dia diberi ini dan temanya diberi itu. Lalu mengenai keinginan ortunya
itu, dia merasa sebenarnya orangtuanya mampu mewujudkan sendiri. Aku ga terlalu
paham maksudnya. Tapi mungkin dia ingin memberikan cita2 orangtuanya sebagai
hadiah yang benar ia usahakan. Dia memberi nasihat untuk orang yang pengen
bekerja, bahwa kita harus sering berkumpul dengan orang yang sudah bekerja. Kedua,
mau bekerja apapun dulu untuk setidaknya tau system perusahaan nanti kejar apa
yang diingankan. Ketiga, S2 itu masih belajar lagi sedangkan perusahaan mencari
orang yang sudah berpengalaman. Tentang S2 aku setuju, bahkan aku juga sudah
menuliskan pandanganku tentang ini.
Setelah mendesak mengenai kabarku, mereka mengatakan waktu
terus berputar selagi aku diam. Bumi tetap berotasi dan matahari tetap terbit
apapun yang aku lalukan. Dunia tidak menunggu, aku yang harus berlari. Aku
paham betul konsekuensi waktu. Agaknya aku lupa apa yang kami bicarakan. Pikiranku
lari kesana kemari. Aku hanya ingat makanan pasar yang kalian beli pagi2 buta
dan membuat kalian tertawa. Terbatasi waktu, perjumpaan kami berakhir dipukul
15.30. Mencari pekerjaan au menemani ijah –wakil ketua himpunan (ucup) yang kriwul
dan watu- ke stasiun. Menunggu kereta kami membicarakan kehidupan dan manusia.
Apa yang diucap selalu gamblang. Benar harusnya memang semudah itu, pikiranku
yang membuat rumit. Masih lari kemana2, aku lupa detail obrolan kami. Aku hanya
ingat dia menjawab pertanyaan ini ‘Gimana caranya berdamai sama takdir yang
kata Tuhan adalah yang terbaik untuk kita padahal kita mengusahakan yang
lainnya mati2an sampai kamu malas berusaha lagi?’ aku lupa tanggapannya. Yang
jelas aku ingat dia bilang ‘tinggal naik aja’ saat aku menganalogikan bahwa ‘aku
sudah mati2an naik 10 lantai, tapi dijatuhkan, aku ga siap kasur atau apaun
dibawah, jadi saat aku kembali sadar aku takut untuk naik setinggi itu, untuk
berharap dan berjuang, aku takut kecewa’. Menurutnya kecewa itu adalah hal yang
lumrah, itu membuat kita belajar, ya gimana kalo gamau kecewa. Aku setuju,
karena pada dasarnya hidup itu penuh dengan kekecewaan. Kalo menghindari
kekecewaan maka aku menghindari kehidupan. Semua penderitaan adalah jalinan
dari kehidupan itu sendiri. Kabahagiaan adalah hasil dari penyelesaian
penderitaanmu.
Bicara mengenai kekecewaan, adalah emosi yang harus belajar
dipertanggungjawabkan. Emosi yang ada dikontrol kita. Dunia boleh berputar
semaunya, tapi emosi kita murni milik kita. Kami sempat membicarakan uang, motivasi, rencana, dan waktu.
Bahwa manusia butuh uang seumur hidupnya, tapi bukan tujuan utama. Rencana
harus dibuat tapi fleksibel terhadap kondisi.
Sepeninggal ijah, aku masih diam di Stasiun. Memaknai, mungkin. Hidup itu terkadang terasa singkat kadang terasa lama. Waktu itu tak terbatas hanya saja manusia tidak abadi. Masa lalu membuat hidup terasa singkat, masa depan membuat takut dan disiapkan seakan2 hidup lama. Perputaran detik menjadi tahun membuat manusia merasa kurang diberi 24. Penyesalan juga bukan jarang datang menemui. Membicarakan waktu membuat aku ingin mencoba banyak hal, karena penyesalan datang lebih sering saat tidak dilakukan daripada melakukan.
Kadang aku sadar pencarian makna ini dikejar waktu, meski aku sadar betul sampai mati pun pasti masih ada tanda tanyaku yang tak terjawab, tapi setidaknya aku ingin tahu siapa orang yang aku lihat di cermin? Aku sudah menemukan beberapa hal seperti mengapa harus tetap berjalan? Tentu saja, apalagi jika bukan untuk dirimu sendiri.
Bukan mengajari untuk egois, lain kali kujelaskan. Ini berkaitan dengan tanggungjawab -aku membicarakan ditulisan 'mencari cinta'-.
Bukan mengajari untuk egois, lain kali kujelaskan. Ini berkaitan dengan tanggungjawab -aku membicarakan ditulisan 'mencari cinta'-.
bye.
Komentar
Posting Komentar