Langsung ke konten utama

Kenapa nulis?

Selayaknya pertanyaan kenapa harus dijawab karena, tapi izinkan aku menulis bagaimananya duluu.

Dulu jaman SD, aku suka baca komik conan sama doraemon. Kelas 5,6 mulai iseng pengen baca teenlit punya kakak tapi sering diomeli karena lama bacanya. Masuk smp aku ketemu temen2 bookaholic parah, dari situ aku mulai baca buku2 translate, novel2 fiktif yang tebalnya Allahuakbar. Budaya membaca jaman SMP udah mendarah daging, sampai satu buku yang antri bisa panjang jadi kalo udah giliran baca ada deadlinenya. Kadang deadlinenya ga kira2, buku tebel bgt suruh selesain 3 hari. Tapi hamdallah gara2 itu jadi cepet bacanya, dan makin mengagumi sastra, mengagumi tulisan2, kata, kalimat.

Sampai sekarang masih suka baca buku meski udah ga sering kaya dulu. Sampai sekarang setiap baca tulisan bisa suka banget, sama quotes aja aku suka. Bikin puisi juga suka meski gatau bener apa ga. Menurut aku dari tulisan bisa menyampaikan perasaan2 yang gabisa diungkapin penulis, bisa menginspirasi, bahkan yang tertangkap dari tulisan juga bisa berbeda tergantung latarbelakang pembaca. Perspektif disini berarti banget.

Jadi jawaban karenanya udah bisa nangkep kan ya? Kalo belum aku perjelas saja. Intinya dari tulisan aku bisa menyampaikan banyak hal, mengungkapkan sesuatu yang gabisa aku omongin langsung, aku pengen menginspirasi juga, dia -tulisan- juga bisa jadi pengingat memori masa lalu saat dibutuhkan. Dan karena aku pengagum literasi, kata2, aku pengen juga membuat satu atau beberapa.

Bye.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reply 1988 : Told Me About Live

Sebagai orang heartless, tidak banyak film atau series yang bisa menyentuh, apalagi berulang kali bikin nangis-nangis. Namun ada beberapa yang menguras air mata, tentu saja. Salah satunya adalah Reply 1988. Series lama (2015) yang entah kenapa direkomendasikan disemua situs setiap kali mencari rekomendasi drama yang bagus. Dari yang awalnya nggak minat, karena setting jaman dulu, sampai aku jatuh cinta sama series satu ini. Apa yang membuat ini begitu menarik adalah angle yang diambil sang sutradara, ada banyak topik yang relevan dengan kehidupan nyata dan penggambaran karakter yang punya ceritanya sendiri-sendiri. Dari topik-topik ini ada banyak banget nilai moral yang bisa kita ambil. Family, tempat pulang bahkan saat terkadang kamu kesal dengan mereka. Dari awal ceritanya menggambarkan bagaimana posisi tokoh utama sebagai anak tengah diantara anak bungsu dan sulung sebuah keluarga yang hidup di bawah tanah. Bagusnya serial ini, engak hanya mengangkat permasalahan keluarga si t...

Lembayung Bali-Saraz Dewi

Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu Di kala jiwaku tak terbatas bebas berandai memulang waktu Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku Bilakah diriku berucap maaf masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu oh cinta Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri cawan hidupku Bilakah kita menangis bersama tegar melawan tempaan semangatmu itu oh jingga Hingga masih bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbangun dari khayal keajaiban ini oh mimpi Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung surya-Mu Lembayung bali

My Confession...

Aku sudah sadar tentang ini dari lama, tapi tiba-tiba pas ngomongin ini dari sisi lainnya which mean ngga tentang aku jadi sedih banget. 06.07.20 'Aku bingung mau terima interviewnya atau ngga soalnya aku merasa ngga layak apalagi membahas gimana organisasi tourism ini bertahan di pandemi dan tetap menolong masyarakat' Pesan yang aku ucapkan buat minta saran, tapi justru menggelitik hatiku sendiri. Dan kebetulan habis banget ngelihat foto-foto orang Pacitan. Aku ngga pernah menjaminkan apapun pada mereka, tak terucap satu pun janji. Tapi dari sorot matanya yang mengharap, aku tau bahwa meraka ingin Aku jadi pahalwannya. Sangat menyedihkan ternyata aku tidak lebih dari seorang bocah. Yang untuk bertanggung-jawab atas hidupnya sendiri aja belum mampu. Ada rasa bersalah yang mebebani, harusnya mungkin dari awal aku tak bermain persoalan ini. Tapi, sebenarnya Aku juga tidak main-main. Hanya saja, (Aku tidak tau bagaimana melukiskan semua kondisi ini tanpa menyalahkan sesuatu...