Langsung ke konten utama

Subjektivitas Cewek

*ob.jek.tif /objèktif/
bentuk tidak baku: obyektif
 
mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi.
 
*sub.jek.tif /subjèktif/
bentuk tidak baku: subyektif
mengenai atau menurut pandangan (perasaan) sendiri.
 
Jadi mari kita mulai. Bismillah. 
 
Berawal dari perjalanan ke Jogja bersama IECC dan pertanyaan panji mengenai bagaimana cewek itu merasa diperlakukan istimewa atau dilindungi oleh cowok, -kalo gasalah- dan pertanyaam gimana cewek itu suka ke cowok dari beberapa temen. Trus baru2 ini aku sering bahas masalah ini sama temen2 cewek dan mereka setuju. 

Jawabanku saat itu 'tergantung, perlakuan sama oleh 2 cowok bisa dapat respon yang beda dari si cewek'.
 
Akhirnya, terjadilah keisengan buat riset lagi tentang ini di IG. Alhamdulillah mendapat 73 respon untuk pertanyaan pertama dan 61 untuk pertanyaan kedua. 
 
Pertanyaan 1.
Bener ga si teori subjektivitas cewek?
65 jawab bener. 10 orang cowok.
8 jawab engga. 6 orang cowok. 
 
Pertanyaan 2.
Kalo bener, kenapa?
a. Fisik --> 5
b. Nyaman --> 24
c. Karakter --> 25
d. Dll. --> 6
 
Jadi yang mau aku bahas lebih ke pertanyaan kedua. Kenapa bisa ada subjektivitas dalam memperlakukan cowok. 
 
Karena pilihan b dan c berarti udah ada interaksi antara si cowo dan cewek, lalu kenapa sering ada kejadian cowok deketin orang trus tiba2 ceweknya bisa ilfil atau jutek duluan(?). Biasanya alesannya risih soalnya cara pdkt nya ga smooth alias terlalu agresif. Yang kedua mungkin udah smooth tapi si cewek langsung nyari latar belakang si cowok dari medsos dan ternyata ga sesuai kriteria jadi singkat2 aja balesnya buat sopan santun aja. 
 
Biasanya tipe cewek yang langsung selektif diawal begini banyak yang deketin jadi makanya selektif atau emang si cewek ga ada pandangan romance sama sekali. Kaya perusahaan kalo banyak lamaran kan harus selektif detail banget, atau dia ga oprek tapi ada aja yg nglamar. 

Another topic ya, kemaren ada yang nanya 'emang cewek taunya kalo dideketin gimana?', sebelumnya aku pernah ngobrolin ini juga. Sejujurnya aku juga bingung karena aku bukan tipikal peka, tapi kalo kata temen2 aku kaya begitu kelihatan gelagatnya. Tapi kalo risa bilang 'kamu sebenere peka tapi pura2 gatau' soalnya kadang aku mikir, mungkin bener soalnya cewek yang ngrasa dideketin sama orang gitu kepedean ga si dia(?) kecuali cowok nya udah ngomong ya.
 
Tapi emang ada tipe cowok yang deketinnya ga smooth dan alay jadi si cewek auto risih dan nganggep itu lebay. Bahkan orang gapeka sekalipun bisa tau, adalah dia bukan temen deket, baru kenal, tiba2 sering chat gapenting, beliin ini itu, trus ngajak2 makan atau nonton -agresif- dan maunya instan dengan sok kenal banget. 

Menurut aku jangan sekali2 jadi cowok model begitu kecuali kamu tau ceweknya juga demen sama anda, karena hampir semua cewek kalo digituin kayanya juga gamau. Kecuali di poin beliin ini itu, kalo anda ketemu cewe matre mungkin masuk2 aja. 
 
Nah subjektif yang dari awal udah muncul merupakan first impression si cewek yang bersumber dari obrolan singkat, lingkungan, sosmed dan berakhir di tertarik atau kagum. First impression yang positif akan membawa pikiran open cewek ke si cowok. Kalo ke subjektifan ini udah positif maka jalan untuk pdkt bakal lancar.
Indikator penilaian setiap cewek beda2, yang dilihat pertama dari cowok pun beda, bisa dari agamanya, fisiknya, hartanya, masadepan, nyambung obrolannya, seru, karakter, pemikiran, nyaman. Faktor-fator itu tergantung pada kebutuhan, latar belakang, dan karakternya si cewek. Dari faktor2 ini, beberapa responden cowok percaya bahwa cewek memilih cowok berdasarkan harta dan masa depan, bukan fisik. Tapi kalo menurut aku pribadi, dan kebanyakan responden cewek si lebih karena nyambung/nyaman. Soalnya setiap cewek butuh pengertian dan didenger. Mungkin harta dan masa depan tetap menjadi bahan pertimbangan,  tergantung bobotnya aja dari setiap cewek. Kalo cewek langsung lihat hartanya, mungkin dari awal dia ga niat mandiri -berpenghasilan-. Memang bukan kewajiban cewek untuk mencari nafkah tapi, JANGAN bergantung ke cowok karena kita gatau maut kapan datang dan gatau juga kan kalo suami ntar selingkuh -naudzubillah- atau gimana2.
 
Tips dari teman buat si cowok adalah sebelum anda pdkt pelajari karakter dan latar belakang ceweknya. Jangan terlalu agresif, nikmati prosesnya. 
 
Lalu kenapa ada yang menjawab engga, karena menurut dia -cowok- sistem jodoh itu untung2an. Karena ada cowok yang buiasa aja bisa dapet. Nah,  intinya kalo menurut dia nyari jodoh itu pas awal buka lensa lebar2, kalo pas udah nikah dipersempit. Lensa dibuka lebar2 untuk melihat calonnya secara detail kaya hrd nyari pegawai. Dan kalo milih itu realistis dipikir pakai otak, jangan dorongan nafsu semata. Jadi kalo yang aku tangkep, menurut dia cewek kalo milih calonnya harus dipertimbangkan secara logis tidak berdasarkan satu aspek saja, dan jadi cewek jangan subjektif diawal, diseleksi baik2, makanya milih engga. Sama kalo menurut salah satu responden bilang kasihan kalo ada 2 cowok diperlakukan beda. 
 
Intinya, maksud aku survey dan menulis ini adalah subjektivitas cewek bakal berpengaruh bagaimana cewek merespon cowok. Dan batas penerimaan cewek bergantung indikator masing2 yang kebanyakan berdasarkan perasaan mereka. Yang mana indikator ini dipertimbangkan menggunakan pikiran -semoga-.
Kesimpulannya, yang jawab iya ataupun engga, manusia selalu punya pilihannya masing2. Ga cuma cewek, cowok pun pasti memilih dulu sebelum mendekati cewek. Tapi karena biasanya cewek cenderung dipilih dan cowok yang inisiatif duluan, maka kadang penolakan dan penerimaan akan diterima si cowok. Yang harus digarisbawahi buat temen2 cewekku, tolak dengan baik jangan sampai menyakiti secara tidak sengaja. 
 
Sekian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reply 1988 : Told Me About Live

Sebagai orang heartless, tidak banyak film atau series yang bisa menyentuh, apalagi berulang kali bikin nangis-nangis. Namun ada beberapa yang menguras air mata, tentu saja. Salah satunya adalah Reply 1988. Series lama (2015) yang entah kenapa direkomendasikan disemua situs setiap kali mencari rekomendasi drama yang bagus. Dari yang awalnya nggak minat, karena setting jaman dulu, sampai aku jatuh cinta sama series satu ini. Apa yang membuat ini begitu menarik adalah angle yang diambil sang sutradara, ada banyak topik yang relevan dengan kehidupan nyata dan penggambaran karakter yang punya ceritanya sendiri-sendiri. Dari topik-topik ini ada banyak banget nilai moral yang bisa kita ambil. Family, tempat pulang bahkan saat terkadang kamu kesal dengan mereka. Dari awal ceritanya menggambarkan bagaimana posisi tokoh utama sebagai anak tengah diantara anak bungsu dan sulung sebuah keluarga yang hidup di bawah tanah. Bagusnya serial ini, engak hanya mengangkat permasalahan keluarga si t...

Lembayung Bali-Saraz Dewi

Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu Di kala jiwaku tak terbatas bebas berandai memulang waktu Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku Bilakah diriku berucap maaf masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu oh cinta Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri cawan hidupku Bilakah kita menangis bersama tegar melawan tempaan semangatmu itu oh jingga Hingga masih bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbangun dari khayal keajaiban ini oh mimpi Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung surya-Mu Lembayung bali

My Confession...

Aku sudah sadar tentang ini dari lama, tapi tiba-tiba pas ngomongin ini dari sisi lainnya which mean ngga tentang aku jadi sedih banget. 06.07.20 'Aku bingung mau terima interviewnya atau ngga soalnya aku merasa ngga layak apalagi membahas gimana organisasi tourism ini bertahan di pandemi dan tetap menolong masyarakat' Pesan yang aku ucapkan buat minta saran, tapi justru menggelitik hatiku sendiri. Dan kebetulan habis banget ngelihat foto-foto orang Pacitan. Aku ngga pernah menjaminkan apapun pada mereka, tak terucap satu pun janji. Tapi dari sorot matanya yang mengharap, aku tau bahwa meraka ingin Aku jadi pahalwannya. Sangat menyedihkan ternyata aku tidak lebih dari seorang bocah. Yang untuk bertanggung-jawab atas hidupnya sendiri aja belum mampu. Ada rasa bersalah yang mebebani, harusnya mungkin dari awal aku tak bermain persoalan ini. Tapi, sebenarnya Aku juga tidak main-main. Hanya saja, (Aku tidak tau bagaimana melukiskan semua kondisi ini tanpa menyalahkan sesuatu...