Langsung ke konten utama

Batasan

Aku gatau ketika hubungan teman antara laki2 dan perempuan terasa salah. Sampai suatu ketika disepakati untuk menjalani asal tau batasan, tapi emang batasnya seperti apa sih?
Susah ketika golongan berkomitmen untuk tidak pacaran tapi dia memiliki teman dekat lawan jenis. Ada dua alasan kenapa orang gamaau pacaran, yang pertama tentu dia tipe agamis yang tidak ingin mendekati zina, yang kedua adalah orang yang gamau ribet dengan komitmen dan tidak percaya komitmen itu sendiri.
Bagiku, awalnya ga ada kata pacaran karena aku berada di lingkungan anak baik -re:agamis- selama ini. Meskipun ibuku tidak melarang untuk pacaran, karena kakak2ku always have complicated relationship membuat aku berpikir bahwa pacaran itu beban. Sekarang, aku semakin mengenal karakter laki2 trus belajar tentang hubungan pernikahan itu adalah hal yang rumit dan menyakitkan. Kenapa? Karena karakter laki2 rawan untuk berselingkuh -brengsek- dan itu pasti akan menyakitkan. Yaa, meskipun ga semua laki2 seperti ini.
Tapi pada dasarnya aku memang suka berteman dengan laki2 karena mereka apa adanya, seru, no wacana dan ga bullshit. Yang bisa jadi hubunganku dengan salah satunya terasa janggal. Awalnya aku gatau itu kenapa karena aku memang bukan tipikal yang paham akan hal2 seperti itu, cenderung tidak mau ambil pusing, sampai aku paham bahwa memang ada yang salah dengan kedekatan tersebut. Harusnya teman tidak berhubungan intens, mereka dateng pas butuh saran atau apapunlah.
Pacaran itu kan sebuah miniatur pernikahan,  sok2an bersumpah mengikat janji tapi atas azas persetujuan antara keduanya saja lalu mereka share their happiness, pain, suffering, and time. Lalu apa bedanya ketika perempuan dan laki2 sama2 single karena gamau pacaran, berteman dan sharing too. Bedanya adalah tidak ada yang mengikat mereka, yang berarti salah satunya boleh pergi kapan aja tanpa pamit. Kalo pacaran seenggaknya kalo mau pergi pamit dulu, cerai dulu, its why ribet. Bedanya lagi kalo pacaran, mau jalan sama yang lain secara intens akan dipandang sebuah perselingkuhan, nyeleweng sedangkan kalo ga ada komitmen ya sah2 aja.
Yang lagi hits sekarang adalah hubungan bukan pacaran tapi berkomitmen buat nikah.
Intinya, semua itu hanya status, tapi yang dilakukan itu ya sama aja. Jadi buat tipikal yang ga pacaran tapi punya teman dekat lawan jenis,  jangan bermain api terlalu besar ke salah satu temenmu karena kalo udah baper bingung kan, gamau pacaran tapi kalo nanti pergi juga kecewa karena sempat berharap. Berjudi dengan masa depan itu hal yang susah karena terlalu banyak variable, bahkan untuk menghitung probabilitasnya juga susah karena tidak ada variable pasti.
Sekian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reply 1988 : Told Me About Live

Sebagai orang heartless, tidak banyak film atau series yang bisa menyentuh, apalagi berulang kali bikin nangis-nangis. Namun ada beberapa yang menguras air mata, tentu saja. Salah satunya adalah Reply 1988. Series lama (2015) yang entah kenapa direkomendasikan disemua situs setiap kali mencari rekomendasi drama yang bagus. Dari yang awalnya nggak minat, karena setting jaman dulu, sampai aku jatuh cinta sama series satu ini. Apa yang membuat ini begitu menarik adalah angle yang diambil sang sutradara, ada banyak topik yang relevan dengan kehidupan nyata dan penggambaran karakter yang punya ceritanya sendiri-sendiri. Dari topik-topik ini ada banyak banget nilai moral yang bisa kita ambil. Family, tempat pulang bahkan saat terkadang kamu kesal dengan mereka. Dari awal ceritanya menggambarkan bagaimana posisi tokoh utama sebagai anak tengah diantara anak bungsu dan sulung sebuah keluarga yang hidup di bawah tanah. Bagusnya serial ini, engak hanya mengangkat permasalahan keluarga si t...

Lembayung Bali-Saraz Dewi

Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu Di kala jiwaku tak terbatas bebas berandai memulang waktu Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku Bilakah diriku berucap maaf masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu oh cinta Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri cawan hidupku Bilakah kita menangis bersama tegar melawan tempaan semangatmu itu oh jingga Hingga masih bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbangun dari khayal keajaiban ini oh mimpi Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung surya-Mu Lembayung bali

My Confession...

Aku sudah sadar tentang ini dari lama, tapi tiba-tiba pas ngomongin ini dari sisi lainnya which mean ngga tentang aku jadi sedih banget. 06.07.20 'Aku bingung mau terima interviewnya atau ngga soalnya aku merasa ngga layak apalagi membahas gimana organisasi tourism ini bertahan di pandemi dan tetap menolong masyarakat' Pesan yang aku ucapkan buat minta saran, tapi justru menggelitik hatiku sendiri. Dan kebetulan habis banget ngelihat foto-foto orang Pacitan. Aku ngga pernah menjaminkan apapun pada mereka, tak terucap satu pun janji. Tapi dari sorot matanya yang mengharap, aku tau bahwa meraka ingin Aku jadi pahalwannya. Sangat menyedihkan ternyata aku tidak lebih dari seorang bocah. Yang untuk bertanggung-jawab atas hidupnya sendiri aja belum mampu. Ada rasa bersalah yang mebebani, harusnya mungkin dari awal aku tak bermain persoalan ini. Tapi, sebenarnya Aku juga tidak main-main. Hanya saja, (Aku tidak tau bagaimana melukiskan semua kondisi ini tanpa menyalahkan sesuatu...