Jadi berbicara tentang media, ada banyak jenisnya. Jenisnya bisa dari informasi maupun bagaimana penyampaian beritanya.
Mari kita fokus ke media yang menyampaikan informasi terkait berita serius -gatau apa namanya-.
Mari kita fokus ke media yang menyampaikan informasi terkait berita serius -gatau apa namanya-.
Dulu waktu SMP aku sempet ikut pelatihan jurnalistik di Jawa Pos, penanggungjawab dari program tsb -aku lupa nama dan posisinya- menyampaikan bahwa media itu tidak netral karena bagaimanapun berita itu ditulis oleh seseorang sehingga ada subjektivitas didalamnya. Namun, si bapak bilang "tapi kami mencoba menjadi berita tsb objektif dengan adanya tim editor dan redaktur".
Beberapa hari yang lalu, aku bertemu seorang marketing dari MetroTV Jatim. Kami berbincang banyak hal, sampai topik kami menyentuh bahasan 'keberpihakan media'. Temanku ini -meski kami baru kenal- mengatakan bahwa sebenarnya bekerja di tempatnya sekarang sedikit mengganggu nuraninya. Ketika kutanya kenapa, dia hanya menjawab 'taulah ya media itu punya siapa'. Dia menceritakan pengalaman pernah ke Jember dan di kaca mobil mereka ditempeli kertas dengan tulisan metrotipu.
Lalu aku menanyakan sumber penghasilan TV darimana aja si selain iklan, soalnya kadang kaya Net pas baru jarang banget ada iklan. Jawabannya adalah 'fokusan tokoh'. Wah!
Dipikiranku saat itu, 'berarti kalo ada politikus yang sering diliput dan itu build image belum tentu dia bener2 baik nih'. Its a new fact for me. Dan karena aku orangnya cablak ya, alias kadang ga mikir dulu kl ngomong, langsung nanya..
'berarti kalo kek j*k*w* gitu bisa jadi bayar dong mba?'
Dipikiranku saat itu, 'berarti kalo ada politikus yang sering diliput dan itu build image belum tentu dia bener2 baik nih'. Its a new fact for me. Dan karena aku orangnya cablak ya, alias kadang ga mikir dulu kl ngomong, langsung nanya..
'berarti kalo kek j*k*w* gitu bisa jadi bayar dong mba?'
Kenapa aku mikir gitu, coba nih kita flashback jaman sebelum 2014.
Tiba2 seseorang yang menjabat sebagai walikota diangkat trus beritanya kalo suka blusukan dkk, trus tiba2 rakyat langsung jatuh hati dan berpikir cocok banget nih buat ngatasi masalah Jakarta. Belum sampai masa jabatannya selesai, udah digadang2 buat jadi presiden. WAW, im amazed. Its too fast. Sebut aja Walikota 1.
Di lain sisi, aku tau seorang walikota juga, Beliau prestatif dan luar biasa amazing lah ya, Walikota 2. Menurutku wajar ketika dia sangat terkenal dengan kebijakannya menutup tempat prostitusi terbesar se Asia Tenggara. WAJARLAH, kalo beliau terkenal. Sempat juga ada penawaran untuk posisi lebih tinggi, tapi beliau menolak. Mungkin beliau masih merasa belum selesai dengan tugasnya.
Pertanyaanku adalah,
1. Apasi prestasi walikota 1 yang cetar banget?
2. Ciri pemimpin yang baik itu ga akan ninggalin amanahnya gasi?
1. Apasi prestasi walikota 1 yang cetar banget?
2. Ciri pemimpin yang baik itu ga akan ninggalin amanahnya gasi?
Udah, itu aja dulu deh soalnya kita fokus bahas media tadi. Aku menduga kalian akan menjawab pertanyaan pertama dengan dia blusukan, then apakah dg blusukan dia menyelesaikan sebuah permasalahan? Bisajadi. Dan buat pertanyaan kedua mungkin kalian akan menjawab, kan itu bukan keinginan dia, but hello, dia punya pilihan untuk berkata tidak. Sorry, bukan ini fokusku.
Herannya saya, sampai sekarang, pencitraannya bagus menurutku. Di setiap berita dana desa dan infrastruktur elalu dikaitkan dengan dia, badahal faktanya dana desa telah ada sejak jaman SBY, dan mengenai infrastruktur itu setau saya dari jaman SBY juga sudah membangun ribuan jalan tuh.
A question again, lantas kenapa baru sekarang di dengar semua lapisan masyarakat? Yah bisa jadi dia sedang pamer untuk building image.
No offense buat yang fans sama beliau, intinya aku hanya membahas kekuatan media dan keberpihakann.
Sorry2, balik lagi, pertanyaanku ke si mba tadi hanya dijawab ketawa sama 'bisa jadi'.
Nah, hal ini makin kuat nyatanya bahwa media tidak netral ketika pemilu 2014, bagaimana bisa dua TV nasional menayangkan hasil pemilu yang berbeda. Semakin kesini, semakin aku bingung ketika membaca berita, penuh keraguan, mana yang hoax, mana yang engaa. Informasi yang disebarkan media besar pun tidak dapat dipercaya.
Nah, hal ini makin kuat nyatanya bahwa media tidak netral ketika pemilu 2014, bagaimana bisa dua TV nasional menayangkan hasil pemilu yang berbeda. Semakin kesini, semakin aku bingung ketika membaca berita, penuh keraguan, mana yang hoax, mana yang engaa. Informasi yang disebarkan media besar pun tidak dapat dipercaya.
Ambil aja kasus tentang Audrey, yang diangkat beritanya dimana2, bahkan media berita online seperti CNN juga menerbitkan beritanya, lalu beberapa hari kemudian sudah muncul berita bahwa itu hanya dilebih2kan saja.
Karena malas membahas pandangan politik, aku mengalihkan topik ke target di marketing TV berapa, dan dia jawab 1M. Egila kann.
Dan aku langsung berpikir itu tantangan banget, karena anak muda sekarang lebih memilih Youtube daripada TV.
Dan aku langsung berpikir itu tantangan banget, karena anak muda sekarang lebih memilih Youtube daripada TV.
Sekian.
Komentar
Posting Komentar