Langsung ke konten utama

Sentuhan Hati

Tiba2 kemaren keinget kejadian luarbiasa di Jakarta, dan menurutku ini sangat bagus banget kalo di share.

Jakarta, 28 September 2017. Hari itu suasana kota mendung syahdu. Aku dateng ke sana untuk mewakili ITS Mengajar karena masuk nominasi untuk website terbaik di Bubu award di IDbyte. Acara ini diadakan beberapa hari, dimana hari terakhir berupa awarding dan conference. Awarding diberikan untuk banyak kategori, ada startup, influrncer -pemenangnya maudy ayunda-. Harga tiketnya mahal gila buat aku jadi bersyukur banget bisa dateng ke sini dan sempet termotivasi juga sama presentasi dari gojek.

Acara beres hampir maghrib gitu, trus aku jalan kaki jauh ke masjid buat sholat. Wew, sok alim yak wkkk. Jadi ada ceritanya kenapa kudu masjid jauh itu dan temenku -unyuk-  sok ide jalan kaki aja.

Sesampai di masjid, aku sholat, dan sehabisnya reflek buka hape karena mau ngabarin temen yang aku tumpangin -namanya Rizkita, anak STIS, sekarang di Papua dia, makasih yaaa selama ini :*-. Eh ternyata aku keterusan bales chat2 lainnya. Laluu, tiba2 saja seseorang merengkuh bahuku -pelan, lembut- dan berkata
'nak, lebih baik waktunya dipakai untuk berdzikir dan berdoa, sayang sekali kalo di masjid untuk main hape'.
Deg. Reflek ku kunci layar hape. Langsung tertohok tepat dihati, berkaca2, kulihat wajah ibunya, luarbiasa tenang, cerah dan bersinar(?).
Lirih, kujawab 'iya bu'. Dan aku menangis!!

Beberapa menit kemudian aku turun, dan masih tergetar hati ini. Sampai pas makan pun masih terbayang2.

Sekian.

P.s. banyak2lah berdoa temanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reply 1988 : Told Me About Live

Sebagai orang heartless, tidak banyak film atau series yang bisa menyentuh, apalagi berulang kali bikin nangis-nangis. Namun ada beberapa yang menguras air mata, tentu saja. Salah satunya adalah Reply 1988. Series lama (2015) yang entah kenapa direkomendasikan disemua situs setiap kali mencari rekomendasi drama yang bagus. Dari yang awalnya nggak minat, karena setting jaman dulu, sampai aku jatuh cinta sama series satu ini. Apa yang membuat ini begitu menarik adalah angle yang diambil sang sutradara, ada banyak topik yang relevan dengan kehidupan nyata dan penggambaran karakter yang punya ceritanya sendiri-sendiri. Dari topik-topik ini ada banyak banget nilai moral yang bisa kita ambil. Family, tempat pulang bahkan saat terkadang kamu kesal dengan mereka. Dari awal ceritanya menggambarkan bagaimana posisi tokoh utama sebagai anak tengah diantara anak bungsu dan sulung sebuah keluarga yang hidup di bawah tanah. Bagusnya serial ini, engak hanya mengangkat permasalahan keluarga si t...

Lembayung Bali-Saraz Dewi

Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu Di kala jiwaku tak terbatas bebas berandai memulang waktu Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku Bilakah diriku berucap maaf masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu oh cinta Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri cawan hidupku Bilakah kita menangis bersama tegar melawan tempaan semangatmu itu oh jingga Hingga masih bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbangun dari khayal keajaiban ini oh mimpi Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung surya-Mu Lembayung bali

My Confession...

Aku sudah sadar tentang ini dari lama, tapi tiba-tiba pas ngomongin ini dari sisi lainnya which mean ngga tentang aku jadi sedih banget. 06.07.20 'Aku bingung mau terima interviewnya atau ngga soalnya aku merasa ngga layak apalagi membahas gimana organisasi tourism ini bertahan di pandemi dan tetap menolong masyarakat' Pesan yang aku ucapkan buat minta saran, tapi justru menggelitik hatiku sendiri. Dan kebetulan habis banget ngelihat foto-foto orang Pacitan. Aku ngga pernah menjaminkan apapun pada mereka, tak terucap satu pun janji. Tapi dari sorot matanya yang mengharap, aku tau bahwa meraka ingin Aku jadi pahalwannya. Sangat menyedihkan ternyata aku tidak lebih dari seorang bocah. Yang untuk bertanggung-jawab atas hidupnya sendiri aja belum mampu. Ada rasa bersalah yang mebebani, harusnya mungkin dari awal aku tak bermain persoalan ini. Tapi, sebenarnya Aku juga tidak main-main. Hanya saja, (Aku tidak tau bagaimana melukiskan semua kondisi ini tanpa menyalahkan sesuatu...