Langsung ke konten utama

What Happen In Surabaya

Selama kuliah 4 tahun di Surabaya saya masih belum terlalu menikmati -mengenal- kota ini. September 2018, menjadi hari bahagia buat semua orang karena saya resmi menjadi seorang sarjana yang justru membuat saya sedih. Rasanya titel ini menjadi beban di berbagai aspek kehidupan saya. Seperti hal nya seorang sarjana, dipandang mampu bekerja di suatu company dengan salary yang tinggi, atau kamu dianggap sebagai manusia dewasa yang mampu berfikir secara rasional. Tapi disinilah saya yang masih mempertanyakan kehidupan ini sendiri. Its way, Growns-up are bored.

Jadi, sehabis wisuda saya justru jalan2 keliling Pulau Jawa, khususnya Surabaya, eksplor tempat2 yang belum saya kunjungi. Waktu itu saya bikin list tempat mana saja yang ingin saya kunjungi, ada 20 an destinasi di Surabaya. Terimakasih kepada teman2 yang mau membantu saya untuk memenuhi keinginan saya. Latar belakang dari ide ini adalah karena saya mau meninggalkan Surabaya, waktu itu bulan Desember dan kosan di Keputih sudah detik2 habis. Lucunya, sekarang saya masih di Surabaya meskipun jadi warga Ketintang, dan meskipun sudah eksplor Surabaya saya masih belum memahaminya. 

Beberapa tempat yang paling spesial buat saya adalah Museum WR Supratman yang sebenarnya terbilang biasa saja dibandingkan dengan museum di Bandung. Museum ini baru diresmikan 10 November 2018, dan penjaganya asik banget. Obrolan dengan mas ini membuat saya berfikir wah, keren nih hidupnya. Dia pernah jadi penjual di Papua. 

Tempat kedua adalah di Bakso Rindu Malam. Malam itu, saya ditemani si petis niatnya ke kodam tapi pas nyampe sana lagi ada acara. Jadi biar bensin si petis ga sia-sia, saya mengajak dia untuk makan di bakso ini. Direkomendasikan oleh sapi dan unyuk. Kuahnya enak banget guys, pengen kesana lagi, tapi belum keturutan, so sad. Disini, saya baru tahu ternyata petis ini teman saya yang baik hatinya, dia mengisi kekosongan setelah wisuda dengan menjadi guru bagi anak2 disekitar. 

Ditempat ketiga ada Perpus BI Mayangkara. Latar belakang saya kesini adalah saya melihat story anak saya jaman di ITS Mengajar, tempatnya asik gitu. Sok ide kesana, pas masuk perpusnya biasa aja. Kebingungan saya berakhir dengan chat si Zenda, nanya lokasi yang syaa lihat di storynyaa. Alhasil, itu di gedung sebelah perpusnya. Sok ide lagi, saya sama unyuk nyelonong aja. Dari arah belakang ada bapak satpan bermuka garang yang seperti mau meluapkan segala amarahnya ke kami. Si unyuk langsung menjelaskan kondisinya, aku panik si jujur aja, jadi kaya nge-blank. Entah kenapa, saya kalo dibentak orang bisa nangis biasanya wkk. Balik lagi, akhirnya setelah saya sadar, saya ikut drama, dengan menjelaskan bahwa teman saya pernah kesono. Dan, kami diperbolehkan untuk masuk dan melihat-lihat, bahkan saya sempat foto ditempat yang saya pengen haha. 

Kodam. Kenapa pengen banget ke kodam? Ada dua hal, satu, karena pengen beli cumi sosis bakar, kedua, karena itu pasar malam yang selalu ada dari jaman dulu, masak saya gapernah. Kesana rame-rame, ada ncus, petis, aku, tika, hanna, po, ijah. Sebenarnya ini agak drama wkk. Dramanya adalah si petis dan ijah gamau ke kodam, tapi saya pengen banget. Akhirnya yang masuk saya sama po aja dan itu udah mau beres2 gitu stand nya. 

Heritage. Dari jaman pas mau lulus sebenarnya sudah ada wacana mau pergi bareng anak ijen, tapi semua menjadi wacana saja. Akhirnya pergi juga tapi bareng si Ilyas, my friend. Keliling surabaya gratis dan ada guide yang jelasin sejarah Surabaya.

Ampel dan Jembatan Merah menjadi terakhir. Perjalanan kali ini aku naik bis Surabaya, turun di taman sejarah. Awalnya mau jalan, tapi ngelihat ada tukang becak berjajar, si unyuk nyeletuk 'katanya mau naik becak di SBY'. Alhasil kami naik becak buat sampe ke Ampel. Menunggu unyuk sholat, saya memperhatikan lingkungan, ramai. Niatnya mau ngelihat makam Sunan Ampel, eh si unyuk blegug emang, dia lupa tempatnya. Baliknya kami jalan kaki ke Taman Sejarah lagi, trus nonton pentas anak SMP.

Jadi masih ada banyak lagi tempat yang saya kunjungi dan ingin kuceritakan, tapi inilah yang paling favorit buat saya. Karena sebenarnya dibalik suatu perjalanan pasti ada sebuah cerita hebat yang bisa disampaikan.

Sekian.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reply 1988 : Told Me About Live

Sebagai orang heartless, tidak banyak film atau series yang bisa menyentuh, apalagi berulang kali bikin nangis-nangis. Namun ada beberapa yang menguras air mata, tentu saja. Salah satunya adalah Reply 1988. Series lama (2015) yang entah kenapa direkomendasikan disemua situs setiap kali mencari rekomendasi drama yang bagus. Dari yang awalnya nggak minat, karena setting jaman dulu, sampai aku jatuh cinta sama series satu ini. Apa yang membuat ini begitu menarik adalah angle yang diambil sang sutradara, ada banyak topik yang relevan dengan kehidupan nyata dan penggambaran karakter yang punya ceritanya sendiri-sendiri. Dari topik-topik ini ada banyak banget nilai moral yang bisa kita ambil. Family, tempat pulang bahkan saat terkadang kamu kesal dengan mereka. Dari awal ceritanya menggambarkan bagaimana posisi tokoh utama sebagai anak tengah diantara anak bungsu dan sulung sebuah keluarga yang hidup di bawah tanah. Bagusnya serial ini, engak hanya mengangkat permasalahan keluarga si t...

Lembayung Bali-Saraz Dewi

Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu Di kala jiwaku tak terbatas bebas berandai memulang waktu Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku Bilakah diriku berucap maaf masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu oh cinta Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri cawan hidupku Bilakah kita menangis bersama tegar melawan tempaan semangatmu itu oh jingga Hingga masih bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbangun dari khayal keajaiban ini oh mimpi Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung surya-Mu Lembayung bali

My Confession...

Aku sudah sadar tentang ini dari lama, tapi tiba-tiba pas ngomongin ini dari sisi lainnya which mean ngga tentang aku jadi sedih banget. 06.07.20 'Aku bingung mau terima interviewnya atau ngga soalnya aku merasa ngga layak apalagi membahas gimana organisasi tourism ini bertahan di pandemi dan tetap menolong masyarakat' Pesan yang aku ucapkan buat minta saran, tapi justru menggelitik hatiku sendiri. Dan kebetulan habis banget ngelihat foto-foto orang Pacitan. Aku ngga pernah menjaminkan apapun pada mereka, tak terucap satu pun janji. Tapi dari sorot matanya yang mengharap, aku tau bahwa meraka ingin Aku jadi pahalwannya. Sangat menyedihkan ternyata aku tidak lebih dari seorang bocah. Yang untuk bertanggung-jawab atas hidupnya sendiri aja belum mampu. Ada rasa bersalah yang mebebani, harusnya mungkin dari awal aku tak bermain persoalan ini. Tapi, sebenarnya Aku juga tidak main-main. Hanya saja, (Aku tidak tau bagaimana melukiskan semua kondisi ini tanpa menyalahkan sesuatu...