Langsung ke konten utama

Bumi Pasundan Diciptakan Saat Tuhan Sedang Tersenyum

[27/08-02/09 2018]

Masa akhir kuliah saat itu membuat hariku kosong, dan aku memutuskan pergi ke Bandung. Yap, aku udah biasa ke Bandung karena emang mba riris, kakak pertamaku tinggal disana. Perjalanan kali ini aku ditemani oleh si kunyuk. Kami naik kereta mutiara selatan jam 19.00 dari Surabaya. Sebenarnya kami beda kursi saat itu, tapi kami meminta pasangan dudukku untuk pindah tempat, untung si bapak baik yaa. Kondisi kereta saat itu terbilang cukup ramai,bahkan belakang kami ada seorang pasangan suami istri dengan anaknya yang selalu menangis. Disitu aku melihat perjuangan orangtua untuk anaknya. Jadi mereka mempunyai semacam ayunan bayi untuk anaknya dan usaha si ibu untuk menenangkan anaknya, mungkin dia merasa tak enak jika sang anak mengganggu orang2 dan si bapak terkadang harus tidur di bawah agar sang anak leluasa. Terharu saya, orangtua selalu melakukan apapun untuk anaknya tapi entah mengapa sang anak sering lupa bagaimana orangtua berjuang untuk mereka. Contoh kecil saja, anak lahir di dunia tanpa tahu apa2, tidak bisa membaca dan menulis, tapi orangtua selalu sabar mengajari anaknya, namun jika seorang bapak atau ibu meminta diajari sesuatu ke anaknya seringkali san anak tak sabar karena mereka tak kunjung paham. Hei, dulupun saat bayi kita juga seperti itu kawan.

Lanjut yaa, kereta kami sampai jam set 9 di Bandung, aku turun di Stasiun Kiaracondong dan kunyuk tururn di St. Bandung. Set 9 berrati jam kantor sudah dimulai yang otomatis membuat saya tidak dijemput oleh mba riris dan mengharuskan naik ojek. Karena saya memang lebih suka naik ojek online (ojol) maka saya pesan satu, dan ditolak sama si bapak karena tujuan saya adalah perumahan yang emang terkenal ganas karena ada ojek pangkalan (opang). Akhirnya saya pesan lagi, dan kutemakan bapak yang mau mengantarku ke rumah. Biasanya kalo di tempat umut seperti ini emang gabakal mau si bapak masuk kedalam jadi kita harus jalan ke depan.
Sampai dirumah, aku ketemu ufa2, dia lupa dong sama tantenya, tapi pas diputerin baby shark dia nempel trus wkkk. Jam 10 aku jemput si ashya di sekolah, mandi sebentar dan naik ojek, pas aku jemput si asya loading gitu tapi ngikut ajaa, dia nanya
A : "mama mana?"
aku jawab "mama di kantor kak"
A : "Kerja yaa"
trus pas aku nanya tadi belajar apa dia gamau jawab sampe pas udah depan rumah dia bru jawab kalo belajar nulis tadii, mungkin dia feel save karena udah sampe rumah.
Istirahat sebentar, sorenya aku keluar sama si kunyuk, mau beli batagor, kata abang gojeknya dia, itu batagor terkenal. Nah, pas aku order ojol ga dapet2, susah emang, karena depan perumahan kakaku tu ada opang banyak banget. Sampai 3 kali order, sampai aku tinggal jalan2 sama si bibik dan bocil2 baru deh dapet si aa nya itu, dan aku kudu jalan kedepan.
Pas ketemu, si aa nya minta maaf gaenak sama aku karena kudu jalan, untung aja rumah mba riris itu di blok A jadi ga jauh2 banget lah. Trus aku kira si aa nya takut sama opang,  ternyata gaa,  dia itu gaenak sama opangnya kalo masuk soalnya dia opang juga,  ngrangkap gitu. Di sepanjang jalan cerita2lah kita dan ternyata emang baru ada kasus agak gedhe ojol bertengkar sama opang di daerah situ. Sebenarnya temen2,  saya heran kenapa pemikiran mereka tidak maju dengan bergabung gitu dengan ojol biar gausa gangguin orang yg lagi kerja keras nyari nafkah. Aku nanyain juga ini ke aa nya,  kata dia bukan masalah hape murah atau gaa, tapi orang2 masih kikuk kalo pake smartphone.

Sampai ditempat batagor, tempatnya lumayan enak tapi kurang cocok kalo buat lama2 soalnya kursinya keras wkkk. Tapi beda lagi persepsi dari si kunyuk, dia menikmati ade2 SMA bubar sekolah, mayan buat cuci mata. Habis makan kami pergi ke Trans Studio Mall (TSM), mall favorit aku nih selain Paris Van Java (PVJ). Kenapa? Karena TSM deket rumah dan PVJ bangunannya bagus parah. Di sebelah TSM ini ada penjual parfum yg recommended  banget. Oiya, kami ke TSM sholat. Ga dengg, kita mau nonton searching. Kebetulan itu hari rabu. Jadi TIX ID itu ada promo beli satu gratis satu kalo hari rabuu. Disini terjadi kebegoan temen2 yang budiman. Jadi searching itu ada di studio 3 kann,  dan kita sudah mengamati pintu dengan tulisan 3 disana. Setelah menunggu sampai jam 7, ternyata pintu itu belum dibuka. Kami pindah tempat duduk di depan pintu itu. Sampai lebih 5 menit tak ada tanda2 pintu mau dibuka, akhirnya unyuk nanya ke mba2 di studio 1, dannnn ternyata studio 3 bukan di pintu yang ada tulisannya 3 ituuu. Untung aja masih iklan pas kita masuk. Menurutku filmnya lumayaan bagus, keren gitu plot twist nya. Kita sempat diskusi mengenai alur film dan tebakan kita mengenai pelaku kejahatan.

Jalan-jalan di Bandung hari-hari selanjutnya, kami ke Tangkuban perahu, Hutan raya, dan Museum2.  Jadi pas di tangkuban Perahu, reflek aja kita tertarik -si kunyuk ajasi sebenarnya- belajar mengenai patahan sunda. Pemandangannya sangat indah ntuk dinikmati, puas mengambil gambar dan berbnafas dalam2 kami beli gantungan kunci bola berbulu yang sungguh lucu. Thank to Kunyuk yang mau beliin barang ga guna wkk. Habis itu kami makan padang dan agak gerimis gitu udahan, capek banget sih jugaan udahan. Melanjutkan perjalanan ke tahura, ada Goa Jepang sama Belanda gitu mayan serem juga suasananya. Kita masuk ke goa Jepang dan pake senter dari si bapak. Disini ada air terjun juga, tapi kita cuma mampir di air terjun yang kecil aja, karena saya sudah lelah berjalan.

Besoknya hari Jumat, kita ikutan sharing session gitu tentang geologi di museum geologi. Si Kunyuk make sendal dong. Keren banget seminarnya, penontonnya sampe berdiri. Menjelang dhuhur, kami jalan keseberang buat ke museum pos. Nah, an aku pengen saling kirim surat biar lucu. tapi kantornya udah tutup jadi kudu balik lagi abis sholat jumat. Si kunyk sholat Jumat aku ke taman lansia sambil beli es durian, sungguh enak sambil duduk dibawah pohon. Sehabis kunyuk sholat, kami makan di cisangkuy. Melihat ada topoki di buku menu aku jadi tergoda sedikit, dan akhirnya aku mengajak kunyuk untuk iuran, tapi rasanya mengecewakan, tapi untuk makanan lainnya enak. 

Selepas kita makan, kami ke museum pos lagi atau lebih tepatnya ke kantor pos untuk berkirim surat. Dilanjutkan ke museum gedung sate. Sekian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reply 1988 : Told Me About Live

Sebagai orang heartless, tidak banyak film atau series yang bisa menyentuh, apalagi berulang kali bikin nangis-nangis. Namun ada beberapa yang menguras air mata, tentu saja. Salah satunya adalah Reply 1988. Series lama (2015) yang entah kenapa direkomendasikan disemua situs setiap kali mencari rekomendasi drama yang bagus. Dari yang awalnya nggak minat, karena setting jaman dulu, sampai aku jatuh cinta sama series satu ini. Apa yang membuat ini begitu menarik adalah angle yang diambil sang sutradara, ada banyak topik yang relevan dengan kehidupan nyata dan penggambaran karakter yang punya ceritanya sendiri-sendiri. Dari topik-topik ini ada banyak banget nilai moral yang bisa kita ambil. Family, tempat pulang bahkan saat terkadang kamu kesal dengan mereka. Dari awal ceritanya menggambarkan bagaimana posisi tokoh utama sebagai anak tengah diantara anak bungsu dan sulung sebuah keluarga yang hidup di bawah tanah. Bagusnya serial ini, engak hanya mengangkat permasalahan keluarga si t...

Lembayung Bali-Saraz Dewi

Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu Di kala jiwaku tak terbatas bebas berandai memulang waktu Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku Bilakah diriku berucap maaf masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu oh cinta Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri cawan hidupku Bilakah kita menangis bersama tegar melawan tempaan semangatmu itu oh jingga Hingga masih bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbangun dari khayal keajaiban ini oh mimpi Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung surya-Mu Lembayung bali

My Confession...

Aku sudah sadar tentang ini dari lama, tapi tiba-tiba pas ngomongin ini dari sisi lainnya which mean ngga tentang aku jadi sedih banget. 06.07.20 'Aku bingung mau terima interviewnya atau ngga soalnya aku merasa ngga layak apalagi membahas gimana organisasi tourism ini bertahan di pandemi dan tetap menolong masyarakat' Pesan yang aku ucapkan buat minta saran, tapi justru menggelitik hatiku sendiri. Dan kebetulan habis banget ngelihat foto-foto orang Pacitan. Aku ngga pernah menjaminkan apapun pada mereka, tak terucap satu pun janji. Tapi dari sorot matanya yang mengharap, aku tau bahwa meraka ingin Aku jadi pahalwannya. Sangat menyedihkan ternyata aku tidak lebih dari seorang bocah. Yang untuk bertanggung-jawab atas hidupnya sendiri aja belum mampu. Ada rasa bersalah yang mebebani, harusnya mungkin dari awal aku tak bermain persoalan ini. Tapi, sebenarnya Aku juga tidak main-main. Hanya saja, (Aku tidak tau bagaimana melukiskan semua kondisi ini tanpa menyalahkan sesuatu...