Langsung ke konten utama

Big Help City

[24-26/08/18]

Aku udah pernah cerita belum ya tentang lima orang yg tergabung dalam sebuah tim TA MASW. Belum yaa?

Jadii, suatu hari diantara senin-minggu aku bertemu dg pak firman. Beliau ini dosen seismik saya. Si bapak menawari TA tentang KP saya di Surabaya dan setelah saya pikir2, saya setuju dong. Lalu saya diminta buat ngajak 4 orang, waktu itu husnia mau tapi dia masih galau. Dan aku publikasi di grup TG3 dan akhirnya kudapatkan unyuk, antok dan fani aka petis.

Yah, setelah proses yang sangat panjang kami mampu menyelesaikan TA. Dan berniat berlibur ke pantai buat liat sunset. Setelah meruwet dan meribet, alhamdulillah kita berangkat ke Tulungagung, Yeay!!

Jadi aku pulang duluan karena emang aku diminta pulang. Hari itu jumat, aku nunggu mereka dateng ke rumah dan sekitar jam 9 an mereka sampe. Ini kejadian kan abis idhul adha jadi lagi banyak daging deh. So kita masak2 ala chef petis dengan asistennya antok dan sausnya dibikin si cus. Aku sama unyuk ngapain dong? Kita ambil bagian nyuci piriing hehe.

Dann fail banget karena sausnya ga nyatu gitu rasanya sama dagingnya masih keras dong. Tapi gapapa, yang penting hepi :). Trus mereka nonton bola sedang aku sama cus mau bobok aja.

Besok paginya, kami pergi ke pantai sehabis sarapan. Ternyata pantai yang kami tuju jalannya lagi diperbaiki sehingga kita harus naik ojek gituu. Akhirnya kami memutuskan buat pergi ke pantai sebelahnya namanya pantai pacar sama apayaa, ku lupaa. Pantai pertama banyak karang dan kami menemui sepasang suami istri yang mencari lobster. Aku sempat mengobrol lama dengan mereka, sampai akhirnya aku membantu membersihkan sampah dari jala mereka. Dan teman2ku tertarik untuk membantu juga. Pulanglah kami membawa 2 kepiting dan satu udang untuk dimasak nanti malam. Rejeki memang tak disangka2.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reply 1988 : Told Me About Live

Sebagai orang heartless, tidak banyak film atau series yang bisa menyentuh, apalagi berulang kali bikin nangis-nangis. Namun ada beberapa yang menguras air mata, tentu saja. Salah satunya adalah Reply 1988. Series lama (2015) yang entah kenapa direkomendasikan disemua situs setiap kali mencari rekomendasi drama yang bagus. Dari yang awalnya nggak minat, karena setting jaman dulu, sampai aku jatuh cinta sama series satu ini. Apa yang membuat ini begitu menarik adalah angle yang diambil sang sutradara, ada banyak topik yang relevan dengan kehidupan nyata dan penggambaran karakter yang punya ceritanya sendiri-sendiri. Dari topik-topik ini ada banyak banget nilai moral yang bisa kita ambil. Family, tempat pulang bahkan saat terkadang kamu kesal dengan mereka. Dari awal ceritanya menggambarkan bagaimana posisi tokoh utama sebagai anak tengah diantara anak bungsu dan sulung sebuah keluarga yang hidup di bawah tanah. Bagusnya serial ini, engak hanya mengangkat permasalahan keluarga si t...

Lembayung Bali-Saraz Dewi

Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu Di kala jiwaku tak terbatas bebas berandai memulang waktu Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku Bilakah diriku berucap maaf masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu oh cinta Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri cawan hidupku Bilakah kita menangis bersama tegar melawan tempaan semangatmu itu oh jingga Hingga masih bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbangun dari khayal keajaiban ini oh mimpi Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung surya-Mu Lembayung bali

My Confession...

Aku sudah sadar tentang ini dari lama, tapi tiba-tiba pas ngomongin ini dari sisi lainnya which mean ngga tentang aku jadi sedih banget. 06.07.20 'Aku bingung mau terima interviewnya atau ngga soalnya aku merasa ngga layak apalagi membahas gimana organisasi tourism ini bertahan di pandemi dan tetap menolong masyarakat' Pesan yang aku ucapkan buat minta saran, tapi justru menggelitik hatiku sendiri. Dan kebetulan habis banget ngelihat foto-foto orang Pacitan. Aku ngga pernah menjaminkan apapun pada mereka, tak terucap satu pun janji. Tapi dari sorot matanya yang mengharap, aku tau bahwa meraka ingin Aku jadi pahalwannya. Sangat menyedihkan ternyata aku tidak lebih dari seorang bocah. Yang untuk bertanggung-jawab atas hidupnya sendiri aja belum mampu. Ada rasa bersalah yang mebebani, harusnya mungkin dari awal aku tak bermain persoalan ini. Tapi, sebenarnya Aku juga tidak main-main. Hanya saja, (Aku tidak tau bagaimana melukiskan semua kondisi ini tanpa menyalahkan sesuatu...