Langsung ke konten utama

KEMERDEKAAN 2018

Malam tanggal 15/08, aku chat ke grup ijen, memanggil orang2 untuk jalan2 besoknya. Mendapat respon positif dari mereka, tapi temanku, tsany, meminta berangkat malam setelah dia les. Maka kami putuskan berangkat pukul 22. Diskusi trus berlanjut sampai keesokan harinya. Nuha mengusulkan kami ke bromo.
Sebuah kebetulan dari alam semesta, hari itu kami jalan2 ke bromo. Mendadak seperti biasanya, bahkan salah satu dari kami tak membawa jaket padahal lagi dingin2nya.  Sesampai disana kami melihat keramaian, dan kami sadari bahwa itu hari libur nasional.  Peringatan kemerdekaan Negera Kesatuan Republik Indonesia, negara kami.
Tanggal 16, kami berangkat, karena kebiasaan kami yang tak jelas, sebelum berangkat kupastikan kami jadi ke bromo, mau pakai jaket gitu maksudnya. Akhirnyaa kami berangkat, aku duduk depan dan tsany yang nyetir. Aku menghubungi nomer jeep yg diberi hanna, awalnya kami sudah senang karena bisa reservasi dulu tapi ternyata kami salah pintu masuk. Untung saja kami bertemu orang di jalan dan kami diberi jeep baru, padahal rata2 sudah penuh karena besok tgl merah. Setelah kutawar2 agar tak terlalu mahal, maka deal lah kami harga 650k dan plus tiket masuk kita ber 6 menjadi 800k.Ya, kami ikut tur untuk 4 lokasi, penanjakan buat melihat sunrise, kawah, bukit teletubies, dan terakhir pasir berbisik.
Sesampainya di tempat parkir kami dikenalkan ke sopir jeep, kami ke toilet, dan aku lapar banget, Ya Allah. Akhirnya kami makan pop mie, dan karena dingin kami menunda keberanngkatan sampai pukul 4. Naik keatas, kami menunggu shubuh di jeep,  karena emang dingin banget, dan si kunyuk ga bawa jaket. Dia make sarung dan ganti sepatu gunung, dan joroknya dia, nemu kaos kaki kotor, entah punya sopo dipake buat sarung tangan. Akhirnya kami turun dari jeep,  jalan bentar, sholat. Naik ke penanjakan, subhanallah, rame bener itu ug mau liat sunrise. Jalan ke atas lagi,  kami akhirnya dapat spot yang lumayan. Awalnya kami jalan ber 6, tapi kepisah, aku bareng cris dan kunyuk. Si nuha bareng sapi dan tsany. Pas jalan keatas, aku nyaris kebablas, saking semangat jalan mungkin, ternyata si cris dan kunyuk belok kanan, untung mereka baik hati manggil aku ya. Foto2, tiba2 si tsany muncul, dan abis itu si nuha, kami tunggu2 si sapi kaga muncul2. Ilang dia. Tsany nyari dia. Habis itu, kita memutuskan turun. Sepanjang jalan kami tak jumpai seorang pun sebagai sapi. Akhirnya sampai di jeep, dia juga tak ada. Pas mau balik atas lagi,  kami melihat dia di belakang kami.
Macet uy jalannya, jadi kami diam di jeep,  gabisa kemana2. Nuha minta temenin ke kamar mandi,  pengen pup dia. Akhirnya aku keatas lagi.
Setelah menunggu, kami bergerak menuju kawah bromo. Kami harus berjalan dari tempat parkir jeep, dan ya lumayan. Sebenarnya aku enggan naik tangga menuju kawahnya,  karena sudah pernah, tapi demi melihat semangat nuha, aku jadi merasa tak tega. Jalan menuju kesana penuh kuda yg lari2 dan eek nya. Kami sempat berhenti untuk membeli ketan. Ditengah jalan, si kunyuk kebelet pup, akhirnya dia pergi ke WC. Alhamdulillah, sampai juga kita di tangga menuju kawah, disitu sampai macet pula, selangkah2 baru bisa naik. Puas diatas, kami turun. Kocak abis ini, pas turun si sapi hampir aja kena tepang sama kuda. Pas perjalanan turun, aku melihat orang membawa bendera panjang pol, aku berpikir mereka akan mengibarkan bendera itu mengelilingi kawah seperti yg dilakukan fiersa besari di kawah tamboraa.
Destinasi selanjutnya, bukit teletubies. Terakhir aku kesana masih hijau sekali itu savananya, sekarang menjadi kering. Foto2,  bercanda gajelas, lempar sendal cris, dia mancing duluan sih. Jadi, tiba2 dia nglepas sendalnya trus dilempar, kan itu mancing banget orang buat usil jugaa.
Saat dipasir berbisik, saya bingung mengapa disebut demikian, ketika ku tanyakan kepada sang sopir, kami diminta mencoba saja. Nuha udah turun duluan, lalu aku kunci pintu dari dalam. Awalnya dia biasa aja,  gasadar tepatnya, karrna kami lama sekali,  tak turun2,  dia mulai membuka pintu tapi tak bisa. Aku mulai ingin iseng,  kuminta bapak sopir untuk menjalankan mobilnya sedikit, tapi si bapak tak mau,  mungkin dia merasa kasian pada nuha. Akhirnya kami turun dan berjalanlah kami menuju tempat itu. Dan melihat semaraknya bendera2 merah putih berkibar dimana2, aku mengajak teman2ku untuk mengheningkan cipta. Mungkin aku sedikit rindu bagaimana dulu aku menjalani upacara, itung2 mengenang jasa pahlawan yg sering terlupakan.
Hari ini, aku berpikir, mungkin itu bisikan dari sang pasir, meminta kita ingat perjuangan pahlawan memperjuangkan Indonesia tercinta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reply 1988 : Told Me About Live

Sebagai orang heartless, tidak banyak film atau series yang bisa menyentuh, apalagi berulang kali bikin nangis-nangis. Namun ada beberapa yang menguras air mata, tentu saja. Salah satunya adalah Reply 1988. Series lama (2015) yang entah kenapa direkomendasikan disemua situs setiap kali mencari rekomendasi drama yang bagus. Dari yang awalnya nggak minat, karena setting jaman dulu, sampai aku jatuh cinta sama series satu ini. Apa yang membuat ini begitu menarik adalah angle yang diambil sang sutradara, ada banyak topik yang relevan dengan kehidupan nyata dan penggambaran karakter yang punya ceritanya sendiri-sendiri. Dari topik-topik ini ada banyak banget nilai moral yang bisa kita ambil. Family, tempat pulang bahkan saat terkadang kamu kesal dengan mereka. Dari awal ceritanya menggambarkan bagaimana posisi tokoh utama sebagai anak tengah diantara anak bungsu dan sulung sebuah keluarga yang hidup di bawah tanah. Bagusnya serial ini, engak hanya mengangkat permasalahan keluarga si t...

Lembayung Bali-Saraz Dewi

Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu Di kala jiwaku tak terbatas bebas berandai memulang waktu Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku Bilakah diriku berucap maaf masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu oh cinta Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri cawan hidupku Bilakah kita menangis bersama tegar melawan tempaan semangatmu itu oh jingga Hingga masih bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbangun dari khayal keajaiban ini oh mimpi Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung surya-Mu Lembayung bali

My Confession...

Aku sudah sadar tentang ini dari lama, tapi tiba-tiba pas ngomongin ini dari sisi lainnya which mean ngga tentang aku jadi sedih banget. 06.07.20 'Aku bingung mau terima interviewnya atau ngga soalnya aku merasa ngga layak apalagi membahas gimana organisasi tourism ini bertahan di pandemi dan tetap menolong masyarakat' Pesan yang aku ucapkan buat minta saran, tapi justru menggelitik hatiku sendiri. Dan kebetulan habis banget ngelihat foto-foto orang Pacitan. Aku ngga pernah menjaminkan apapun pada mereka, tak terucap satu pun janji. Tapi dari sorot matanya yang mengharap, aku tau bahwa meraka ingin Aku jadi pahalwannya. Sangat menyedihkan ternyata aku tidak lebih dari seorang bocah. Yang untuk bertanggung-jawab atas hidupnya sendiri aja belum mampu. Ada rasa bersalah yang mebebani, harusnya mungkin dari awal aku tak bermain persoalan ini. Tapi, sebenarnya Aku juga tidak main-main. Hanya saja, (Aku tidak tau bagaimana melukiskan semua kondisi ini tanpa menyalahkan sesuatu...