Deg. Rasanya jantung sempat berhenti lantaran melihat puzzle yang katanya berisi pengumuman siapa saja yang diterima untuk belajar disana. Sedih mendapati kotak2 penuh huruf acak meskipun tidak semua itu tak menuliskan satupun namaku. Aku yang bingung ingin menanyakan pendapat karena sempat bertaruh dari hasil ini, akhirnya memutuskan menghubungi Husnia. Entah kenapa. Sempat heran karena tumben sekali dia menjawab dengan cepat. Pertanyaanku cepat dijawab oleh satu pesan dari dia, 'Aku belum bisa menjawab sekarang yen, maaf, mbakku barusan meninggal'.
Benar saja, itu memicu Aku yang sudah bersedih semakin tidak sungkan untuk menangis. Entah kenapa, semakin dewasa setiap lagi waktunya engga sholat selalu pengen menangis, tiba-tiba aja gitu. Merasakan yang namanya dilepen, saat Aku dulu engga permah merasakan sekalipun. Aneh. Skip.
Aku hari itu ada janji naik Gunung Pundak. Sebelum berangkat sempat menghubungi beberapa orang terkait berita ini. Sadar sudah semakin mendekati pukul 22.00, aku bergegas mandi. Entah kenapa mandi selalu menjadi aktivitas yang pas buat menangis. Aku membayangkan dua anak kecil yang ditinggalkan, Aku membayangkan sebentar lagi Husnia akan merayakan hari senang. Tapi takdir Tuhan berkehendak seperti itu. Lagi, Aku sempat mempertanyakan takdir, kenapa? Tiba2 saja teringat pertanyaan kedua kepada hidup dari Reyhan 'Apakah hidup itu adil' dan 'yaa, hidup itu adil karena Tuhan tahu porsi dan waktu yang pas untuk semuanya'.
Mungkin minat Kami melanjutkan perjalanan sudah sedikit turun karena besok pagi harus ke Malang untuk takziyah. Saat naik, hujan turun dan Aku engga bawa mantel, beli di indomaret juga habis. Akhirnya setelah melanjutkan sebentar ke pos 1, Kami berpikir untuk membangun tenda saja disana. Gokil emang. Yang penting bisa tidur, ngopi, dan makan sembari menikmati gunung lah. Padahal Kami terlanjur membeli logistik yang lumayan banyak. Nyatanya para pendaki lain di pos 1 mengikuti jejak kami untuk membangun tenda disana. Gokil emang.
Ketika perjalanan dinikmati bukan untuk sebuah pencapaian belaka, tapi menikamati momen yang dibangun bersama. Setiap detik yang menjadi seru hanya karena saling berkeluh.
Pagi kami bangun dan bergegas membereskan tenda. Turun untuk menyambung perjalanan ke Malang.
Husnia, semoga Kamu selalu dilimpahi kebahagiaan. Semoga keluargamu diberi keberkahan dan kebahagiaan. Sabar, percaya takdir Tuhan.
Sekian, salam dari Aku.
Komentar
Posting Komentar